31/05/06

"KADO DARI ISTIQLAL"


Istiqlal.....Memang sudah sewajarnya memiliki wajah kusam para penghuninya. Tak terkecuali Aku. Istiqlal merupakan tempat berkumpulnya sebagian karakter manusia mulai dari utara Malaysia, melewati Tarakan, agak ke kanan Ambon dan ke selatan Kendari serta paling bawah Bima. Mulai dari budaya "borro" ; "namanggo" (kayaknya Aku harus mencari bahasa daerah masing-masing untuk kata sombong, angkuh) sampai egois "sekke" ; "paipullu"
Gaya hidup anak kostan dalam lagu PHB (Pemuda Harapan Bangsa) dengan judul Mahasiswa Rantau yang kurang lebih liriknya sebagai berikut :

Mahasiswa Rantau
Makan tak teratur
Senen makan selasa puasa...
Rabu ngutang eh kamis di baya...
Jumat lapar lagi sabtu ngutang lagi... minggu ngutang lagi
Senin balik lagi....
Rambut metal gondrong, celananya bolong....
Jarang makan apalagi jajan
Pacar tiada duitpun tak punya....
Utang dimana-mana
Aku ini memang...,Mahasiswa Rantau.

Seperti itulah mungkin wajah penghuni Istiqal beberapa hari terakhir ; maklum tanggal tua.
Sebuah gejolak dan semangat serta iming-iming agar dapat menjadi manusia dengan konteks buku-buku kuliah untuk mempertahankan rasa lapar dengan cara teriak-teriak di "lorong" sebagai pelepas segalanya.
Sekedar gambaran Isitqlal merupakan nama sebuah kostan (pondokan) yang terdiri dari 40 kamar dengan dua lantai. Lantai atas ditempati oleh cewek-cewek seksi (biasanya hanya memakai handuk dengan toket kelihatan serta paha yang mulus) yang terbagi atas 2 sayap. Sayap kiri lebih "ekstrim" dibandingkan sayap kanan tetapi bisa statusnya disamakan ketika berbicara ke-cerewetan, caleda, seksnya tak terkecuali. Bahkan ada yang membawa cowok/pacarnya sampai seminggu untuk nginap dikamarnya. Ah tidak usah munafik kayaknya semua pernah membawa pacar dan menginapkannya serta mencicipi atau dicicipi dikamar masing-masing….betul-betul sebauh pencerminan biologis umur mahasiswa. Entahlah? Yang jelas nakal, liar, brutal dsb ... (untuk teman-teman di Istiqlal Aku pribadi minta maaf kalau sudah lancang untuk menuliskannya seperti it, tidak lain adalah sebagai pencerminan kita semua terhadap amruknya moral ah entah apa namanya kita bersama..... sekali lagi maafkan Aku semoga orang tua kalian tidak membacanya)
Lanjut. Kamar dibawah dihini oleh cowok-cowok sanggar, bolot, sok-lah terdiri; dari 20 kamar yang masing-masing 10 kamar bagian kiri dan 10 kanan dengan pintu masuk kamar saling berhadapan, sehingga terbentuklah sebuah lorong kecil tempat kami biasanya bercangkrama, parker motor serta teriak-teriak "anarkis" dengan berbagai bahasa masing-masing. Dalam satu sisi, komunitas pondokan lebih terlihat ke-sukuismenya disbanding dengan kost-kostan di Makassar. Efek dari ini (Sukuisme) sering menimbulkan konflik antar sesama penghuni pondok maupun dengan pondok lain.
Itulah mungkin gambaran singkat potret wajah pondokan tetapi lebih dari itu Aku ingin menulis betapa berharganya sebutir nasi ketika sama sekali tak memiliki uang.

Hidup ... Mungkin itulah hidup. Ya itulah hidup ... Aku baru sadar ternyata hidup itu memerlukan pengorbanan. Bayangkan saja dengan kiriman yang pas-pasan ditambah biaya hidup di Makassar mahal. Oh ia ... mungkin kalau hidup di Makassar lebih mahal dibandingkan kompleks pondokan perbandingannya kira-kira seperti ini:
Nasi ayam seporsi pondokan seharga Rp 3500,- dengan menu nasi sebanyaknya (terserah pembeli, mau seperti gunung bawakareang juga bisa), ayam (tinggal pilih ada ayam goreng, ayam kecap, ayam Pedas, dsb) serta sayur. Sedangkan kalau kita keluar kompleks pondokan (Kota Makassar) harga seporsi nasi ayam bisa mencapai ­Rp 7500,- dengan porsi nasi Cuma sekepalan tanggan (mana bisa kenyang apalagi biasanya kami makan cuma sekali sehari)

Ketika tidak mempunyai uang sama sekali, biasanya kami saling meminjam sesama teman yang memiliki kelebihan uangnya ataubiasanya kami memakai saldo listrik yang dibayar tiap bulannya atau alternative lainnya kami ngutang di warung depan tetapi untuk sekarang berlaku aturan "Utang Dibatasi, Harap Maklum" begitu bunyi tulisan yang terpampang ketika masuk warung depan tersebut. Jadi kalau utang sudah banyak lagian teman-teman juga sudah tidak mempunyai uang lebih untuk dipinjamkan ya... terpaksa harus menahan lapar dengan alternative lain seperti minum air gallon/ air kemasan mineral sebagai penganjal perut.
Aku ingat dahulu ketika masih kecil sampai SMU dikampung halamanku kota Palu, mau makan tinggal langsung menuju dapur; buka lemari tempat ikan plus sayur, ambil nasi di rice cooker trus makan didepan TV sambil nonton berita.

Sunggguh hal yang sangat-sangat kontradiksi dengan keadaanku sekarang. Merantau jauh-jauh ke "UNHAS" demi legitimasi dengan lingkungan kecilku, keluarga teman serta kota Palu.
Justru keadaan ini akan menjadi kenangan abadi dalam proses menuju kesempurnaanku. Bahkan sempat Aku berpikir sebenarnya perjuangan mahasiswa awalnya dikarenakan merasa senasib dengan rakyat miskin yang semakin bertambah di negeri ini.


Tidak ada komentar: