Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidup. Tampilkan semua postingan

03/05/18

Conservationist


Konservasi alam,,,

Bukanlah sosok yang selalu memberikanmu bantuan pemberdayaan

Bukanlah sosok yang selalu memberikanmu hukuman penjara bagi petani dan peladang hingga nelayan

Bukanlah sosok yang selalu memberikanmu kasih sayang bagi satwa endemik disekitarnya

Bukan pula sebagai sebuah sosok menakutkan seperti yang diketahui oleh masyarakat dipinggir-pinggir hutan

Tetapi,,,

Konservasi alam itu sangat kompleks

Ada manusia dan masyarakatNya

Ada satwa endemik dan ciptaanNya

Ada Air, tanah dan UdaraNya

Ada Hutan, perairan dan lautanNya

dan Ada Indonesia


Selamat bertahan sang konservasionis

Kehangatan keluarga, keramaian kota hingga akses informasi pun kau tinggalkan

Hidup dipedalaman rimba dan bertemu dengan manusia-manusia tradisional sekitar hutan

Serta berteman oleh satwa liar dalam kesunyianmu.

Demi sebuah niat tulus.

Memberikan kehidupan demi generasi yang akan datang untuk masa depan yang lebih baik.

Semoga bernilai ibadah.

Salam Konservasi huhahuhahuha

04/04/16

Permainan Badut Kota


Atas meja makan, 23:58
Sembari menunggu masaknya air untuk merebus mi instan kesukaanku. Malam larut gini emang salah satu menu spesial itu adalah mi goreng instan. Selalu, setiap kali rasa lapar melandaku.
Berbagai pengalaman dalam bertugas dan berkeluarga telah aku alami dalam beberapa dekade minggu terakhir. Dimulai dari kegiatan perairan yang mengisahkan kebahagiaan dengan parameter lunsum yang didapatkan jauh lebih tinggi dari harapan. 5 hari di perairan sembari menikmati berbagai pengalaman lapangan aku alami. Mulai dari peristiwa naik “bue-bue” (baca ; ayunan bayi) bagi suku tradisional hingga penelusuran pengolahan kayu yang dilakukan oleh oknum dalam jumlah yang besar. Oknum tersebut sampai dengan tulisan ini diturunkan, tak diketahui dimana rimbanya. Keparat emang,,, merusak hutan dengan mengambil kayu dalam jumlah yang besar tanpa memperdulikan lainnya.
Kegiatan perairan kali ini melibatkan sekcam yang secara terang-terangan didatangi formal ke kantor kecamatan. Ini adalah kali pertama kami melakukannya. Berbeda dengan TN lainnya. Kali itu tongak sejarah pertama TN berkolaborasi dengan pemda di mulai. Yang mana sebelumnya sangat bertentangan dengan oknum bupati yang bernama damshit. *jeda sejenank, mie gw udah mateng*

09/10/15

KLHK vs KKP

Diterbitkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pasal 78 A dimana 7 Taman Nasional Laut di Indonesia akan dialihkan pengelolaannya dari Kementerian Kehutanan (KLHK) ke Kementerian Kelautan dan Perikanan yaitu Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) di DKI Jakarta, Taman Nasional Karimun Jawa (TNKj) di Jateng, TN Bunaken (TN Bunaken) di Sulut, TN Wakatobi (TNW)di Sultra, TN Taka Bonerate (TNTB) )di Sulsel, TN Kep. Togean (TNKT) di Sulteng dan TN Teluk Cenderawasih (TNTC) di Papua, kemaren sempat membuat panik beberapa bahkan bisa dikatakan seluruh pegawai Taman Nasional Laut di Indonesia. 
Saya meyakini disemua pegawai tersebut lagi pada galau untuk kemana arah mereka selanjutnya. Apakah tetap sebagai rimbawan atau ntar bertugas di laut.
Semoga saja Tuan yang diatas sana memperjuangkan nasib kami masing-masing. 467 orang PNS di 7 Taman Nasional (laut) Indonesia

20/09/12

Bedah Novel State of Fear-nya Michael Crichton

Apakah sebuah buku yang menyatakan dirinya sebagai karya nonfiksi layak disandingkan, dan ditimbang dengan sama seriusnya dengan karya akademik (yang serius namun popular)? Menyandingkan novel State of Fear karya Michael Crichton dan The Weather Makers buah pemikiran Tim Flannery jelas punya persoalan yang demikian. 

Crichton: Tidak Ada Pemanasan Global! 
Crichton bagaimanapun adalah seorang penulis cerita fiksi, walaupun dalam setiap novel maupun naskah filmnya ia selalu menggunakan perkembangan ilmu pengetahuan mutakhir sebagai dasar cerita. Andromeda Strain meminjam berbagai fakta astronomi, Prey menggunakan berbagai perkembangan teknologi nano, Time Machine dan Sphere memanfaatkan teori relativitas khususnya mengenai perjalanan antarmasa. Namun, sepertinya dalam novelnya yang terakhir ini, ia tidak saja memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk menarik perhatian pembaca. Lebih jauh, ia juga sengaja

14/07/12

Kopi Galau

ber-kopi bareng masyarakat
Minum kopi atau ngopi, mungkin merupakan satu dari sekian banyak kata kerja dalam kamus bahasa Indonesia. Semua mendefenisikan aktivitas; dari negosiasi tukar pikiran, reuni dengan kawan lama, sampai bincang-bincang formal dikalangan menengah atas. Smua bisa dilakukan dengan ngopi

Ngopi juga tak mengenal status dan strata social di masyarakat kita. Kelas atas, menengah, punya duit bahkan sampai orang paling miskin pun pernah melakukan ritual ngopi. Dari warung kopi kelas atas yang berada di mall-mall gede sampai dipangkalan-pangkalan ojek. Tidak ada diskriminasi soal ngopi semua menikmatinya. 

Klo gw boleh menganologikan aktivitas minum kopi dengan kehidupan gw sehari-hari kayaknya paling pas deh, kadang kaya, kadang miskin sama halnya kadang pahit atau manis sebuah kopi yang terrseduh dari cangkirnya. Cangkir kopi itu adalah otak dan atau perasaanku. 

Seringkali kita menikmati kopi adalah lebih banyak pahit dibanding manisnya, lebih banyak ampas daripada kopinya. Jauh dari keluarga saat bertugas, seminggu doang bersama istri tercinta, harga-harga meroket naik tidak disertai kenaikan gaji, hutan rusak akibat pembalakan liar, banjir dan longsor dimana-mana hingga kualitas kita sebagai

08/07/12

Konservasi Alam dalam Kacamata Islam

Muqadimah 
Kawasan konservasi di SPTN Wilayah I
Alam dan lingkungan hidup tidak terpisahkan dari manusia. Dan peran manusia adalah sebagai sosok yang memakmurkan bumi termasuk memelihara alam dan lingkungan hidup. Secara ekonomis alam dan lingkungannya sangat berharga dan penting. Telah banyak dicatat kerugian yang diakibatkan kerusakan alam dan lingkungan, baik secara langsung seperti permbalakan liar (ilegal logging), maupun tidak langsung seperti sedimentasi di waduk ataupun bendungan yang membuat PLTA tidak beroperasi sehingga menurunkan daya listrik. Pada kondisi tertentu keadaan ini mengakibatkan pemadaman bergilir yang akhir-akhir ini sering terjadi. Dalam skala yang lebih luas, bumi terancam oleh pemanasan global dan efek rumah kaca yang dapat menenggelamkan pulau-pulau dan kota-kota tertententu di dunia. Berbagai tindakan telah dilakukan oleh negara-negara di dunia. Dalam Konverensi Tingkat Tinggi tentang lingkungan hidup di Kyoto, Jepang beberapa kesepakatan telah dicapai untuk mengurangi emisi setiap negara. Namun, Amerika Serikat tidak ikut menandatangani perjanjian penurunan emisi tersebut. Sebuah arogansi yang untuk kesekian kalinya ditampakkan. Dalam khasanah ilmu pengetahuan barat, konservasi merupakan cabang dari ilmu yang disebut ekologi. Ekologi berasal dari akar kata yang sama dengan ekonomi, yaitu oikos (rumah tangga). Sehingga ekologi adalah ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup, yaitu mengenai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan bendabenda mati disekitarnya. Dalam perspektif Islam, menjaga lingkungan hidup adalah kewajiban, yaitu sebagai salah satu kewajiban manusia sebagai

25/06/12

Dear Istriku Sayang...





Apa kabar sayang? bagaimana dengan hari mu jauh dari aku? seperti hari-hari biasanya saja,
sembari menunggu surat sakti dari penguasa direktorat ini.
Nasib memang tak selalu bersahabat dengan keinginan,
 layaknya kunang-kunang yang kadang tak lagi bersahabat dengan malam.
Aku hanya bisa bilang. Aku kangen pelukan dan diskusi hangatmu diatas ranjang sebelum kita tertidur pulas.
Istriku... Sungguh bukan mauku begini, tapi bayangkan berapa juta orang sepertiku malam ini.
Berapa banyak suami terpisah ribuan bahkan jutaan kilometer seperti kita untuk dikasihani.
Sungguh bukan mauku berteman rindu seperti ini sayang
Ingat Istriku... Saratus keinginan pasti harus ditebus dengan seribu bahkan jutaan pengorbanan, Adakah yang sia-sia? Sungguh bukan mauku seperti ini. Sungguh.....!!!!
Andai saja kau membacanya, janganlah bersedih. Tetap tegar untuk semua proses ini. 




18/06/12

Study Banding ke TN. Bali Barat coy

Lama tak menulis. Jangankan menulis, untuk menghubungi istri dan keluargaku saja 3 bulan terakhir bisa dikatakan berkurang, sok sibuk... Mungkin bisa dikatakan seperti itu akan tetapi memang beberapa bulan belakangan aktivitas tugas negara semakin membuatku mengindahkan urusan keluarga dan privasi itu sendiri. Aneh... Yah emang aneh, diriku sejak dilantik menjadi Kepala Resort di SPTN  Wilayah I sungguh meningkat tajam, misalnya saja pada bulan April tepatnya tanggal 21 April sampai 2 Mei 2012 aku ditugaskan ke Taman Nasional Bali Barat, Selanjutnya 3 Mei Taman Nasional Bukit 12 Jambi hingga 28 Mei di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Sulawesi Selatan (Di Jambi bukannya jengukin istri cuy? Di Makassar bukannya di BDK Makassar cuy? Biar aja… tulisan tulisan gw biar keren dan sok menjelajah aja coy, maklum masih muda perlu eksis biar manis) awal mula perjalanan dinas yang mengesankan buatku. Selain bisa belajar banyak di Taman Nasional tersebut diriku tentunya bisa belajar dengan keunikan yang ada didalamnya. Baiklah... Aku akan bercerita tentang perjalanan-perjalanan yang aku lakukan 3 bulan terakhir. 
 
21 April - 26 April 2012 at Taman Nasional Bali Barat. 

Taman Nasional Bali Barat merupakan salah satu dari 5 Taman Nasional model di Indonesia yang bisa dijadikan percontohan, bagaimana tidak selain kondisi umurnya yang sudah hampir pensiun kalau dia adalah seorang PNS juga lokasi aksebilitasnya sangat mendukung baik dari Bayuwangi cuma dengan menumpangi kapal ferry seharga 5 ribu rupian atau gratis ketika menggunakan seragam PDH atau dari Denpasar itu sendiri dengan memakan waktu kurang lebih 3 jam nga membuat pantat anda tepos tentunya apalagi disepanjang perjalanan banyak view aneh diantaranya ritual agama Hindu dan sama skali tak menemukan mesjid. Bicara soal mesjid sepanjang perjalanan dari denpasar hingga Gilimanuk memang bener-bener tak ada, kami aja ketika ingin shalat magrib tak tau harus gimana yah terpaksa nyerahin diri dalam bus ketika itu. Tepat tanggal 21 April siang itu pesawat yang kami tumpangi berlandas di bandara Ngurah Rai, sesampai dibandara aku menghubungi seorang teman si Kadek BKSDA Bali untuk memohon petunjuk jalan mencapai Gilimanuk tempat kantor TN Bali Barat bersarang. Kami menyewa rental mobil yang didesain khusus karena memiliki rangka diatas seperti mobil-mobil adventure milik bli ke Gilimanuk seharga 500ribuan. Siang itu perut kami udah keroncongan dan disepanjang jalanan di Denpasar terpampang tulisan "menyediakan babi guling spesial dan renyah" sampai-sampai kata bli sopir yang membawa kami ke Gilimanuk nantinya bahwa babi guling itu merupakan makanan khas dan nikmat di Bali. Akhh akhirnya saat itu aku mengusulkan untuk makan di warung makan padang saja sebagaimana ketika aku di Manado dulunya. Pasti warung padang... Lumayan, total nominal yang dimakan tak semahal ketika di bandara hasanuddin  Makassar transit kami tadi pagi yang sekedar ngopi tertera dinota 400an ribu. Memang hanya orang-orang gilalah yang makan di Bandara kali yak? Mobil melaju kencang menuju arah barat dari kota denpasar, sepanjang perjalanan aneh saja banyak orang dan bule yang tak memakai baju berkeliaran layaknya film-film jaman purba atau film tarzan X dan jene di hidden folder laptopku, siang itu dengan kondisi ngantuk tapi mata aku takan ku biarkan tertutup sedetikpun untuk menikmati keindahan sepanjang jalan Denpasar-Gilimanuk. Banyak yang aneh aku saksikan, mulai dari setiap mobil yang melintas awalnya harus minta pemberkatan dulu di pura-pura yang tersedia banyak sampai dentuman ombak menjulang ke langgit yang kian tinggi atau sekedar menikmati tulisan "sedia babi guling" yang tak lazim seperti biasanya. Tapi dalam benakku inilah Bali coy... Ini Bali bukan Arab atau Aceh (kayak udaah pernah ke aceh aja lu dul) 

Sore kami nyampai. Gilimanuk.. Yah Gilimanuk... Banyak tulisan-tulisan terpampang "anda memasuki wilayah Taman Nasional Bali Barat" atau seruan-seruan konservasi misalnya "lestarikan hutan TN Bali Barat" "waspada api", "dilarang menebang" atau bla bla bla seperti anjuran pak menteri untuk melestarikan hutan indonesia. Oh ya?? Ya eyalah... Rental kami mendarat di Pondok Lestari saat itu, eh ternyata si pemilik pondok tersebut adalah orang Makassar tawwa,  na taunnya ini blo rental di?. Maka dengan sok akrabnya dan aku gunakan pendekatan kesukuan biar gratis nginepnya dan total pengeluaran negara yang seharusnya ada bisa diminimalisir masuk kantong pribadi heheheee.. Tapi ternyata tidak, harus tetap membayar; bodoh... Memang harus bayar, namanya juga hotel! Nga sampai buang kentut di Hotel Lestari Gilimanuk ternyata salah seorang staf Balai Taman Nasional Bali Barat dateng dengan mobil ford patroli polhut untuk menawarkan kami nginap di guest house milik TN BB mereka ternyata telah menyediakannya. Dalam pikiran aku saat itu "horeee... Akhirnya dapat yang gratis, berarti ntar duit SHU perjalanan dinas banyak donk" maka dengan

14/04/12

Explore to 3 Puncak Gunung Api


Pulau Ringgit, 10 April 2012 - 23.21 diposting melalui smartphoneku

Saat ini aku dilapangan, tepatnya di pulau ringgit atau julukan lain terhadap pulau una-una. Pulau yang terdapat gunung colo tersebut kini tanpa lampu dengan penghuni kurang lebih 200 kk. 

Kawah Gunung Colo
Kali ini kami berdua dengan mas wawan melaksanakan dua kegiatan yang dirangkum menjadi satu sudah begitu dengan dana oprasional memadai dari negara tentunya tapi sesuai intruksi dan perintahj kepala seksi kami cuma melaksanakannya berdua dengan alasan biar kami bisa memininalisir anggaran sehingga hasil akhirnya terdapat banyak sisa. Yah seperti itulah kondisi abdi negara seperti kami dalam melaksanakan perjalanan dinas. Ya Allah semoga apa yang aku beri ke istriku disana bersifat halal. Walaupun nuraniku teriak sepertinya aku sudah asik dengan "budaya" seperti ini tanpa merasa risih dengan sistem yang ada kendatipun saat-saat seperti ini aku harus turun langsung ke lapangan dibandingan dengan teman-teman kantor yang lain. Sok suci... Entahlah? 

Kemarin tepat tanggal 6 April aku dan mas wawan menaklukkan 3 gunung berapi di pulau ini. Yaitu gunung sakora, gunung ambi dan gunung colo. Luar biasa pengalaman yang kami dapatkan mulai dari perjalanan yang setealh aku perhatikan di alat GPS ternyata sejauh 17,97 km jalan kaki, menuruni tebing yang curam dibawah jurang secara penglihatan tertutup oleh daun pakis hingga hal-hal mistis dari gunung tersebut yang aku tak bisa jelaskan secara mendetail melalui coretan ini. Luar biasa pengalaman yang kami dapat yang berakhir pada rekor baru dalam perjalanan petualanganku menaklukkan tiga gunung dalam sehari penuh.

Perjalanan kami berawal dari dusun una-una stap dengan menggunakan kederaan bermotor berupa sepeda motor kami menelusuri pinggiran pantai layaknya pembalap trail dengan kondisi lumpur, melewati jembatan pohon kelapa dan naik turun bukit. Seruu... Sesampai disungai besar sepeda motor kami tak mampu melanjutkan perjalanan yang memaksa kami dan tim terdiri dari mas wawan, si feri (pamhut) dan raden (penunjuk jalan) harus berjalan kaki. 

Perjalanan kami dimulai dengan menelusuri sungai besar. Subhannallah... Maha besar Allah... Luar biasa alam... Dan begitu kecilnya manusia ketika itu dalam benakku. Bekas letusan gunung Colo tahun 1983 masih saja meninggalkan bekas mulai dari tekstur tanah hingga ketinggian tebing serta kedalaman jurang yang kami tempuh membuat kesimpulan dikepalaku bahwa manusia sungguh tak berdaya. Yaa... Kami kecil!
Sesampai dipuncak hal paling menegangkan selama pengembaraanku menelusuri gunung adalah ketika kami harus melewati tebing yang dibawah jurang tetapi untungnya secara psikologis tak membuat kami takut karena tertutup oleh semak pakis-pakisan yang menghalangi dasar jurang. Ketika itu kami melintasi tebing tanpa alat sedikitpun, hanya mengandalkan keterampilan sebagai manusia biasa yang minim pengalaman. Sampai-sampai ketika itu aku dan mas wawan gemeteran saking gugupnya harus melintasi tebing itu. Setelah kami sanggup melalui tebing, kami pun melanjutkan perjalanan. Perjalanan beberapa meter kedepan dan kami harus menuruni jurang dengan ketinggian kurang lebih cuma 10 meter. Aku sebagai ketua tim langsung memutuskan untuk beristirahat sebentar berhubung perut kami sudah keroncongan makanya harus makan dengan bekal yang kami bawa. Makanan pada saat itu setiap orang tidak memakannya sampai habis tetapi disisakan sedikit untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yaitu harus bermalam di gunung itu.

Si Feri pamhut kami yang "masih" rajin karena baru saja diangkat sebagai "honorer" di Taman Nasional mengambil inisiatif menebang kayu besar untuk dijadikan tangga menuruni jurang tersebut. Dan idenya ternyata cemerlang. Ketika itu layaknya seorang peserta diklat polhut di Lido kami melakukan gaya "flaying fox" bukan menggunakan tali tapi kali ini menggunakan kayu yang berujung pada kemaluan aku yang sakit karena gesekan. Akhirnya kami berhasil menuruni jurang tersebut dengan kemiringan 90 derajat. Perjalananpun dilanjutkan dan beberapa meter kedepan kami mendapatkan jurang yang lebih curam lagi hingga memutuskan kami untuk kembali dan berbalik arah.

Sementara kondisi kami yang mulai "drop" kami harus menemukan jalan keluar dari puncak gunung ambu tersebut. Kami menenangkan diri tepat dipuncak gunung yang dimana kiri kanan kami adalah jurang. Tempat kami berisitirahat adalah puncak, dengan lebar jalan setelapak kaki kami hingga bergerak sedikit menyebabkan kami jatuh mengelinding ibarat bola, sudah seperti itu semutpun mengerumuni kaki kaki kami. Luar biasa...
Menghabiskan rokok beberapa batang kamipun melanjutkan perjalanan hingga mendapatkan jalan keluar yang lumayan terjal saat itu sendal gunung yang aku gunakan putus memaksaku jalan dengan kaki tidak normal. Dalam benakku saat itu menyerah karena kondisi alam dan kondisi badan yang sudah tidak stabil, kepala semakin pusing mungkin karena kekurangan oksigen dan kaki yang sudah lecet. Sama seperti mas wawan. Ingin menyerah saja. Dengan terpingkal pingkal akhirnya kami bisa turun dan mendapatkan sungai dibawah, saat itu terjadi penyesalan karena kami salah arah. Danau gunung colo ternyata berada dikaki gunung sebelah. Semakin droplah kami semua. Sudah hampir sore, aku memutuskan agar tim pulang karena berhubung perlengkapan kami kurang memadai untuk melakukan pendakian malam. Sesampai ditepi sungai kami balik arah pulang dan sekitar jam 6 sore kami tiba dititik koordinat awal tempat dimana motor kami diparkir. Sungguh luar biasa....

Besok pagi kami berencana pulang ke Wakai dengan menumpang kapal penumpang pukul 7 hari rabu 11 April 2012. Ditemani suara ombak terdengar disini, dilantai 2 penginapan masyarakat yang kami tinggali membuat sebenarnya seseorang bisa tidur lelap dengan kondisi badan yang pegal-pegal karena pendakian kemarin tetapi tidak pada diriku. Aku hanya menginggat istriku yang jauh di Sumatera sana sembari membuat tulisan ini di smartphone yang aku miliki tanpa sinyal sedikitpun. Aku merindukannya dari Pulau ini. Una-una Island... Pulau yang kaya dengan hasil alamnya.

05/01/12

Monyet Karimunjawa (Macaca fascicularis karimoenjdawae) di Taman Nasional Karimunjawa (TNKj)

Pagi itu, jarum jam sudah menunjuk angka enam. Sedikit bergegas, kami mulai berkemas: kamera, baterai cadangan, binokuler dan sebotol air sudah memenuhi ransel. Berjalan kaki selama hampir 45 menit, menyusuri pantai timur Pulau Karimunjawa, sampailah kami di sebuah teluk. Deretan hutan mangrove menjadi penanda perjalanan kami akan berakhir. Hembusan angin musim timur mengiringi langkah kami ke Dusun Legon Lele. 

Dari jauh nampak segerombolan monyet turun dari pohon kelapa, beberapa masih bersembunyi, seperti barisan tentara mengintai lawan. “Krra, krra, krra, krra!” Suara dari Macaca itu untuk mendeteksi keberadaan kelompoknya. Kehadiran kami bukan ancaman bagi mereka. Sambutan yang menggembirakan, bisik kami dalam hati. Di hadapan kami, Macaca fascicularis karimondjawae, berjarak hanya 300 meter dari tempat kami berdiri. Perlahan, kami menyiapkan kursi lipat hitam, binokuler dan tripod menjadi alat bantu mengamati satu-satunya primate penghuni pulau ini. 

Satwa yang sedang menyantap buah kelapa itu satu dari empat subspesies yang hidup di pulau-pulau kecil di Indonesia. Tiga lainnya: Macaca fascicularis fuscus hidup di Pulau Simeulue, Sumatera; Macaca fascicularis lasiae di Pulau Lasia, Sumatera; dan Macaca fascicularis tua di Pulau Maratua, Kalimantan. Macaca fascicularis, monyet! asli! Asia Tenggara, tersebar di berbagai tempat di Asia: Semenanjung Myanmar, Thailand, Malaysia, Indocina bagian selatan, Filipina, Sumatera, Jawa dan Kalimantan. 

 Monyet ini termasuk hewan liar yang mampu mengikuti perkembangan peradaban manusia. Macaca secara umum masih aman, bukan termasuk satwa yang dilindungi. Namun, lantaran perburuan yang terus terjadi, pemanfaatan Macaca fascicularis diatur dalam keputusan Menteri Kehutanan No. 26/1994. Monyet jantan memiliki panjang tubuh antara 385-648 mm dengan berat 3,5 – 8 kg, sedangkan betina 400-655 mm dengan berat 3 kg. Warna tubuh bervariasi: mulai dari abu-abu sampai kecoklatan, dengan bagian ventral berwarna putih. Hidungnya datar dengan ujung hidung menyempit. 

Anak Macaca yang baru lahir berambut kehitaman. Ekor yang melebihi panjang tubuh bermanfaat bagi monyet ekor panjang untuk menjaga keseimbangan saat beraktivitas di cabang kecil. Ciri khas monyet ras karimondjawae terdapat pada bagian atas kepala yang nampak seperti jambul. Pulau Karimunjawa, dengan ketinggian 506 meter di atas permukaan laut, menjadi habitat yang sesuai bagi primata ini. Hutan sekunder dengan tanaman Uyah-uyahan (Chionanthus rami!orus), Jambon lapis (Sizygium pycnatum), Jambon pletik (Sizygium syzygioedes) menjadi sumber pakan bagi monyet pemakan segala (omnivora) ini. Komposisi pakan monyet: 60 persen buah-buahan, dan selebihnya berupa bunga, daun muda, biji, umbi.

Monyet ekor panjang terkadang turun sampai ke formasi mangrove yang berbatasan langsung dengan hutan hujan tropis di Taman Nasional Karimunjawa. Selain di Legon Lele, penduduk sekitar kawasan sering menjumpai si monyet di Kemloko, Legon Boyo, Cikmas, dan Nyamplungan. Sebaran satwa yang masih berkerabat dengan beruk mentawai dan monyet hitam sulawesi ini dapat juga dijumpai pada formasi mangrove di Legon Jelamun, Pulau Kemujan. Monyet yang hidup di daerah bakau terkadang memakan kepiting atau jenis moluska lain. Tak mengherankan, beberapa peneliti menyebutnya dengan macaca pemakan kepiting—crabs eating macaque. Primata ini hidup berkelompok dengan jumlah individu berbeda di setiap kelompok. Pada hutan bakau umumnya berjumlah 10-20, sedangkan pada hutan primer bisa mencapai 20 – 30 ekor. Di Karimunjawa lebih sering dijumpai kelompok kecil, 10 – 20 ekor. Besar kecilnya kelompok tergantung pada ada tidaknya sumber pakan yang tersedia di alam. Penggabungan kelompok dapat terjadi bila jumlah pakan yang tersedia lebih dari cukup. Perkiraan populasi monyet ekor panjang dalam kawasan dengan luas 1.285,5 hektare ini mencapai 267 ekor. Monyet ekor panjang dapat bertahan hidup selama 37 tahun dengan masa hamil antara 160-170 hari. 

15/12/11

Barbagi cerita "babom" ikan

Pagi itu sesuai jadwal kapal kami berangkat menggunakan kapal ferry dari Ampana Ibukota Kabupaten Tojo Una-Una Kantor Balai Taman Nasional Kepulauan Togean menuju Wakai untuk melaksanakan Kegiatan Patroli Perairan Kawasan Konservasi sesuai dengan Surat Perintah Tugas (SPT). Dalam tulisan ini saya tidak menjelaskan secara detail tentang pelaksanaan kegiatan, tetapi diskusi dan pengamatan saya terhadap tindakan beberapa orang yang melaksanakan aktivitas menangkap ikan dengan cara menggunakan bom hingga merusak terumbu karang dan ekosistem lainnya dibawah laut. 

Sepanjang jalan dari Pelabuhan Ferry Uebone Menuju Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Wakai tak henti-hentinya mengucapkan kebesaran “sang pelukis” alam ini. Sungguh sangat fantastik dan luar biasa. Panorama indah ditengah lautan terdapat ikan lumba-lumba yang berlomba-lomba menghampiri kapal kami, seakan mereka sebagai pengawal saat itu. Melalui pengamatan saya setiap pelaksanaan kegiatan, ketika menyeberangi Teluk Tomini diperairan rawan gelombang tinggi selalu saja si lumba-lumba itu mengawal setiap gerakan entah kapal kecil (katinting) ataupun kapal sebesar ferry. Seperti diperintahkan oleh atasanNya secara rutin. Selain fenomena lumba-lumba tersebut sekitar lamanya 3 jam berlayar kami disuguhkan oleh fenomena alam yaitu pulau-pulau kecil seperti batu yang berdiri kokoh sendiri ditengah lautan belum lagi keindahan mangrove dan birunya laut Teluk Tomini ketika menghampiri pulau Batudaka.

Hiruk Pikuk Pelabuhan Ferry Wakai
Pulau Batudaka merupakan pulau terbesar di Kepulauan Togean beribukota di Wakai sebagai pusat kegiatan masyarakat masuk dalam Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I. Sesampai di Wakai dalam jarak tempuh 4 jam sampailah kami di Pelabuhan Ferry Wakai. Berselang sejam kemudian kapal tersebut meninggalkan Wakai menuju Pelabuhan Gorontalo. Riuh pikuk suasana bongkar muat penumpang dan barang menjadi aktivitas rutin dipelabuhan tersebut setiap kali kapal-kapal berlabuh menambah kesan mendalam kepada kami tentang masyarakat kepulauan. Selanjutnya tim kami bergerak menuju Kantor SPTN Wilayah I yang hanya beberapa meter dari pelabuhan ferry untuk melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah maupun kepolisian setempat. Karena sudah menghampiri malam dan kondisi angin barat dilautan yang selalu menjadi ancaman bagi pelaut, tim memutuskan untuk menginap semalaman dikantor SPTN Wilayah I. Kantor itu ternyata berada diketinggian dari perumahan penduduk sekitar sehingga dengan leluasa kami menikmati matahari tenggelam (sunset) dan aktivitas masyarakat. Ada yang baru saja datang melaut (bahasa lokal : mangael) ditandai adanya dayung dan mesin katinting dipikul dipundaknya serta beberapa orang yang hendak ke mesjid untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah serta anak-anak yang berlarian kedalam rumah masing-masing setelah bermain petak umpat. Sungguh pencerminan kehidupan masyarakat yang jauh dari hiruk pikuk deru mesin seperti kota besar.

KEESOKAN HARINYA – Menggunakan perahu mesin tempel merek yamaha model 40 pk milik Balai Taman Nasional Kepulauan Togean yang dioperasikan di SPTN I Wakai kami melintasi pinggiran pulau Togean menuju Desa Kabalutan yang berada di Wilayah Administrasi Kecamatan Walea Kepulauan SPTN Wilayah III Popolii. Desa Kabalutan ini unik. Penduduk di gugusan Kepulauan Togean mengenalnya dengan nama pulau janda. Dijuluki pulau janda, disebabkan sebagian besar masyarakatnya berstatus janda. Menurut Sofyan Kepala Desa Kabalutan, Hingga Oktober 2011 tercatat sebanyak 422 orang dari 733 Kepala Keluarga yang bermukim didesa itu adalah Janda. Janda-janda tersebut ditinggalkan oleh suaminya dengan alasan melaut atau berdagang ke tempat lainnya seperti Ampana, Luwuk, Gorontalo, atau Pulau Kalimantan. Menurut tradisi setempat seorang perempuan tidak bisa meninggalkan pulau itu dalam keadaan bagaimanapun. Ada yang menarik ketika kami diskusikan dengan beberapa tokoh masyarakat setempat. Dalam hukum desa, ketika sepasang berlainan jenis diatas jam 10 malam atau ketika lampu desa dimatikan masih duduk berduaan di desa itu akan ditangkap oleh hansip desa untuk dinikahkan. Untuk menikah di desa ini lumayan cepat dan praktis tanpa harus menggeluarkan dana ekstra seperti umumnya budaya nikahan yang ada di Sulawesi. Prosesi dan acara biaya nikah cukup menggeluarkan nominal puluhan ribu rupiah didepan penghulu hingga seseorang resmi berstatus suami-istri atau dengan sangsi lain jika tak mempunyai nominal uang, yaitu menyelam mengambil batu karang di dasar laut untuk dijadikan bahan baku sarana prasarana umum di desa. Terbesit dalam pikiran saya saat itu bukannya aktivitas tersebut tidak mengindahkan aspek konservasi dengan cara mengambil terumbu karang yang ada didasar laut? 

Di Desa Kabalutan tersebut tinggalah salah seorang “jenderal bom”. Adalah Usman Jumaih, pria berbadan kurus berkulit hitam dengan kumis tipis tersebut kelahiran Luwuk berusia 52 Tahun menuntutnya untuk mendapatkan gelar itu. Dan beruntunglah kami yang dapat bertukar informasi dengan sang jenderal bom yang insaf itu. “Semua orang tahu kalo kita (red : saya) adalah jenderal bom yang insaf” katanya lengkap dengan dialeg khasnya. “bahkan kita pernah maso (red : masuk) di majalah dan koran-koran” lanjut katanya sembari mengeluarkan majalah dan koran lokal yang memuat profil dirinya. Gelar “jenderal bom” secara berseloroh dilekatkan pada dirinya. Saya akui setiap melakukan kegiatan perlindungan dan pegamanan kawasan, ketika melakukan tindakan persuasif kemasyarakat dengan menggali data dan informasi umumnya masyarakat masyarakat di gugusan pulau-pulau Togean bahkan di Ampana menjulukinya sebagai jenderal bom besar dari Kabalutan. Kisahnya dua puluh lima tahunan yang lalu ketika awalnya datang di Desa Kabalutan, Usman sapaan akrabnya mulai menggunakan cara pintas untuk mendapatkan ikan melalui babom

Babom adalah istilah yang digunakan masyarakat Kepulauan Togean untuk menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak. Menurutnya babom itu bisa menghasilkan ikan sampai sepuluh kali lipat dari cara konfensional. Semula Usman hanyalah seorang nelayan biasa, sekitar tahun 1980an hasil tangkapannya bagus tetapi sekitar tahun 1990an merosot tajam kenangnya “terpaksa kita babom daripada lama-lama tinggal kita lempar bom saja itu ikan-ikan, tapi saya sekarang benar-benar sadar bahwa itu salah besar, kalau sekarang saja susah mendapatkan ikan, bagaimana anak cucu saya nanti? Mereka mungkin tidak lagi makan ikan klo rumahnya ikan kita bongkar!” tutur Usman siang yang terik itu menambah suasana pengap dirumah papan beratapkan seng karena dipenuhi Tim Patroli Perairan Konservasi saat itu. Dari situlah karena rutinitasnya menjadi pembom ikan dan menularkannya pada nelayan lain sehingga disebut jenderal bom. 

Sang jenderal bom itu berbagi kisah dengan kami tim patroli perairan tentang teknik babom. Ada dua jenis bom yaitu dengan bom yang langsung dilempar ke laut atau dengan menggunakan detonator (pemicu ledakan). Bom yang langsung dilempar ke laut biasanya mempunyai resiko yang besar karena ketika arus laut nelayan tidak dapat menghindari atau bahkan terkena dampak dari bom itu, sedangkan dengan menggunakan detonator dapat meminimalisir resiko yang ada. Bom tersebut di berbahan baku utama adalah pupuk tanaman cap matahari atau obor yang didapatkan secara terselubung melalui jalur Bunta, Palu atau Gorontalo. Bahan lainnya adalah korek api kayu dan botol kaca bekas kemasan minuman. Setiap nelayan babom bisa menghasilkan 20 botol bom sekali buat dengan biaya kurang lebih Rp. 250.000,- dalam satu kilo gram pupuk tanaman cap matahari atau obor dengan penghasilan sekali babom dapat mencapai kurang lebih Rp. 150.000,- dalam satu botolnya. 

Nelayan babom umumnya di laut jauh dari pemukiman dilakukan pada malam dini hari dengan konsidi mempunyai terumbu karang kedalaman kurang lebih 1 setengah meter sehingga efek ledakan bisa mematikan gerombolan ikan-ikan dan tidak diketahui oleh orang sekitar. Berdasarkan data dilapangan melalui deskripsi dan diskusi sang jenderal bom dan beberapa nelayan lainnya, kami menyimpulkan bahwa terumbu karang yang menjadi sasaran adalah dari jenis Acroporidae. Karang ini umumnya hidup diperairan dangkal, dilindungi, mempunyai bentuk seperti tanduk rusa dan kumpulannya terkadang berbentuk meja yang ideal bagi tempat hidup dan bersembunyi gerombolan ikan. Dengan adanya aktivitas babom ini dapat menyebabkan kerusakan fatal beberapa radius kilometer pada terumbu karang karena mempunyai daya ledak yang lumayan tinggi hingga dapat menganggu ekosistem dibawah laut seperti karang hancur, terburai dan mati serta dengan begitu ikan-ikan makin sulit ditemukan. 

Sebenarnya kalau diamati secara mendalam, tindakan babom ini menghasilkan ikan-ikan dengan kondisi daging yang lembek. Dipasar-pasar tradisional yang ada di Kepulauan Togean kami sulit mendapatkannya, hal ini diakibatkan karena masyarakat yang ada di kepulauan Togean mendukung untuk tidak membeli ikan hasil penangkapan dengan menggunakan bom. Hasil ini umumnya dijual ke luar misalnya Gorontalo, Ampana atau Palu. 

Bom yang digunakan terbilang sederhana, namun nelayan dan masyarakat di sekitaran pulau tidak mengetahui dampak yang bisa ditimbulkan oleh bom tersebut. Dampak jangka panjang yang akhirnya malah merugikan dirinya sendiri sebagai nelayan, anak cucunya atau mereka mungkin belum menyadari pentingnya sebuah keberlangsungan terumbu karang bagi ikan. Karena itulah, seharusnya setiap petugas gencar melakukan sweeping bagi siapapun yang membawa dan menggunakan bom ikan atau melakukan sosialisasi dan penyuluhan agar terumbu karang tetap terjaga dan lestari. 

Hari sudah menjelang malam, senja tenggelam diufuk barat Kepulaun Togean. Tampak jelas bahwa keindahan luar biasa disajikan “gratis” oleh sang pencipta, Tim Patroli Perairan pada saat itu bersiap melanjutkan perjalanan malam menerobos ombak yang berkejaran seakan waktu takan kembali, semilier angin laut menusuk tulang-tulang kami diiringi suara angin laut yang sepoi-sepoi untuk bergerak menuju Desa Popolii melaksanakan program kegiatan selanjutnya. Patroli Perairan Kawasan Konservasi Balai Taman Nasional Kepulauan Togean 2011. 

SELAMATKAN TERUMBU KARANG DEMI MASA DEPAN ANAK CUCU KITA…

Salam Lestari…!

*Tulisan ini telah terpublikasikan dan tersebar dibeberapa media*

28/08/11

Atas Nama "tuhan"

Kehidupan ini berjalan seiring waktu dan tidak mengenal kompromi bagi siapa saja yang terlambat untuk memanfaatkannya mengisi warna warni kehidupan. Siapa yang terlambat maka ia akan tergilas dan siapa yang cepat maka ia akan memerankan peran menjadi aktor dalam sandiwara kehidupan. Sebagian orang memilih menjadi peran utama, sebagian lagi menjadi peran pembantu dan mungkin sebagian lainnya hanya menjadi juru rias, cleaning service, atau bahkan hanya jadi penonton yang menikmati hidupnya diluar panggung sandiwara yang kita kadang sebut ”Kehidupan”. 
Apapun peran yang kita mainkan dalam kehidupan ini yang pasti punya tujuan, entah untuk nilai komersialisasi, nilai status sosial atau bahkan mengatasnamakan ”Tuhan” sekalipun, yang penting kita punya peran. Semakin lama sandiwara ini kita mainkan maka semakin banyak hal yang perlahan tapi pasti mulai kita pahami dan pemahaman itulah yang telah membuka pintu hati kita untuk mengenal sang ”Sutradara” yang kita sebut ”Tuhan”. 
Selama berhari-hari, Bulan bahkan bertahun-tahun kita menjadi aktor dari Skenario cerita kehidupan yang kita sering bimbang dan bingung apa yang ada di balik cerita yang kita perankan. Boleh jadi kita isi cerita kehidupan ini dengan menjadi preman, pelacur, penjudi, peminum tapi tidak menutup kemungkinan garis takdir mengantarkan hidayah sehingga status sosial kita di tengah-tengah masyarakat menjadi seorang guru, dosen atau bahkan lebih mulia ”Seorang Ustazd”. 
Kita mulai tersentak dan tersadar ketika cerita kehidupan ini menguak misteri yang jauh dari perencanaan dan logika kemanusiaan kita. Kita tidak pernah menyangka bahwa seorang pelacur yang kita ”nistakan” kemudian berbalik menjadi muslimah seutuhnya. Atau yang lebih ironis lagi ternyata kita temukan seorang tokoh agama yang rela menjual aqidahnya untuk meningkatkan status ekonominya (Penulis tidak tega menggunakan istilah ”korupsi” kalaupun itu kenyataannya).
Ulah ”liar” manusia, berbuat sesuka hatinya, saling zalim menzalimi, zina menzinahi dan seakan-akan tanpa kontrol terkadang telah menggoda alam berpikir kita untuk kemudian bertanya kemana perginya ”Sang Sutradara” ?, apakah setelah ia ciptakan kehidupan kemudian ia menghilang dan membiarkan manusia menggoreskan takdirnya sendiri ? Atau mungkin ”Sang Sutradara” memilih dan memilah mana aktor yang tepat untuk satu peran tertentu dalam Skenario-Nya ?
Berbagai spekulasi jawaban dari rentetan pertanyaan tersebut. Satu diantaranya ketika Friendrich Wilhelm Nietzche dalam diktumnya “Tuhan telah mati”. Pandangan Nietzche itu kemudian memperoleh dukungan dari para ilmuan ternama lain, seperti Sigmund Freud, Karl Marx dan sederetan nama lain yang pada dasarnya berpendapat bahwa ajaran agama tak lebih sebagai sebuah ilusi dan hiburan sesaat untuk lari dari derita hidup dan sama sekali bukan penyelesaian problem hidup itu sendiri.
Tentu saja dalam kehidupan ini yang hidup bukan hanya Nietche. Bagi Albert Einstein, tidak terbayangkan olehnya ada para ilmuan yang tidak punya keimanan mendalam. Makin jauh kita masuk pada rahasia alam, makin besar kekaguman dan penghormatan kita pada Tuhan. Ketika Einstein ditanya apakah Ia percaya kepada Tuhannya Spinoza, filosof Yahudi dari Belanda, Ia berkata :

Aku tak bisa menjawabnya dengan sederhana; ya atau tidak. Aku bukan ateis dan aku tidak juga dapat menyebut diriku panteis. Kita ini mirip seorang anak yang masuk kesebuah perpustakaan besar, penuh dengan buku dalam berbagai bahasa. Anak itu tahu bahwa pasti ada orang yang telah menulis buku-buku itu. Secara samar-samar, si anak menduga adanya keteraturan misterius dalam penyusunan buku-buku itu, tetapi Ia tak tahu bagaimana. Bagiku, itulah sikap yang sesungguhnya dari bahkan orang yang paling cerdas sekalipun terhadap Tuhan. Kita melihat alam semesta disusun dengan sangat menakjubkan dan mematuhi hukum-hukum tertentu. Tetapi, kita hanya memahami hukum-hukum itu secara samar-samar saja. Pikiran kita yang terbatas tak dapat menangkap kekuatan misterius yang menggerakkan semesta. Aku terpesona dengan panteisme spinoza, tetapi aku jauh lebih mengagumi lagi sumbangannya bagi pemikiran modern karena dialah filosof pertama yang memperlakukan jiwa dan badan sebagai satu kesatuan, bukan dua hal yang berbeda.
Ketakjubannya pada penemuan sains membawa Einstin kepada Tuhan. Jika pandangan agamanya mempengaruhi pemikiran ilmiahnya, pada gilirannya pemikiran ilmiahnya mewarnai pandangan agamanya.  Dalam pandangan Einstin, salah satu intekasi antara agama dan ilmu pengetahuan adalah agama menyumbangkan ajarannya pada ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan menghadiahkan penemuannya pada agama.
Siapaun orangnya, entah Nietche atau Einstein, atau siapapun ia, semuanya berbicara atas nama ”Tuhan”. Satu melihat dari sisi kelam-Nya dan sudut pandang lainnya melihat pencerahan menuju hakekat kemanusiaan yang ”ber-Tuhan”.
Pencarian dan penemuan hakekat ketuhanan sesungguhnya adalah proses pencerahan manusia menuju Tuhannya. Al-Hallaj, seorang sufi besar yang pernah dimiliki oleh dunia Islam, akhirnya dihukum pancung oleh algojo Abul Haris atas perintah Khalifah Bani Abbasiyah karena telah dituduh kafir atas pendapatnya, “Ana Al-Haq” (aku adalah kebenaran) atau “Ana Al-lah” (Aku adalah Allah). Ucapan kesufiannya inilah yang menghadapkan Al-Hallaj ke tiang gantungan.
Kasus Al-Hallaj menggores kepedihan mendalam pada nurani sejarah. Kematiannya memercikkan sentimen publik tentang perebutan makna dan hak istimewa “atas nama Tuhan” untuk mematikan perbedaan pendapat dikalangan masyarakat.  Seolah menjadi penguasa, lantas dengan sendirinya memiliki hak istimewa dari Tuhan untuk menuntun, mengatur dan menentukan jalan hidup orang lain.
Ironisnya, ketika berbagai persoalan sosial keagamaan muncul bukan untuk menjadikan Tuhan sebagai “sebab” dan “tujuan” segala permohonan dan pengabdian melainkan Tuhan dipinjamkan nama-Nya, guna dimanfaatkan sebagai alat, sebagai instumen sosial politik untuk membenarkan berbagai tindakan yang justru melawan kehendak Tuhan itu sendiri.
          Belajar untuk mempelajari keragaman alam berpikir dari sudut pandang yang berbeda dan belajar untuk tidak selalu mengklaim kebenaran hanya dari satu sudut pandang telah membawa alam kesadaran berpikir kita bahwa hanya Tuhan yang berhak untuk mengatasnamakan kebenaran Mutlak dan manusia tidak punya hak mengatasnamakan Tuhan untuk saling menghakimi, saling mengkafirkan bahkan Tuhan tidak pernah memberikan legitimasi manusia mengatasnamakan Tuhan untuk mencabut ”hak nafas kehidupan” manusia lainnya.

04/05/11

Suara sumbang seorang yg berstatus "PNS kementut"

Menyandang status sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil yang mengurusi hutan dan hasil hutan serta peredarannya tidaklah sesimpel yang anda bayangkan. Berbagai tudingan melakukan korupsi sering dialamatkan kepada kami, dari penerimaan CPNS sampai "ucapan terima kasih". Walaupun sama sekali tidak ada di kementerian kami yang prosesi masuknya terjadi suap menyuap seperti kebanyakan yang ada didepan mata anda. Hingga justifikasi anda terhadap kami yang menerima "paket" berupa "ucapan terima kasih" dari anda anda sekalian. Kami hanya menjaga hutan, menjaga kelangsungan kehidupan bagi umat manusia dimuka bumi. Kami tidak meminta sepeserpun "duit" dari anda anda sekalian. Karena Gaji dan Biaya kami dari sudah berasal dari anda. Seluruh Warga Negara Indonesia melalui pajak dan sebagainya.


Ketika kami meminta anda untuk tidak menebang, tidak merusak eksositem alam dan hasilnya, anda bahkan memamerkan otot kepada kami sebagai simbol perlawanan terhadap kebebasan anda untuk mengelola lahan. Maka kami akan menerima hukuman sesuai dengan peraturan berlaku jika terbukti bersalah dan membiarkan anda merusak.

Tolong bantu kami untuk menjadi pelayan masyarakat yang profesional sesuai dengan tugas kami, tentunya menjaga keseimbangan ekosistem sesuai dengan daya dukung alam




*coretan lama saya yang tersimpan rapi dalam folder laptopku. Lebih baik me-explorer-nya daripada menjadi sampah di recycle bin*

31/03/11

Taman Nasional Laut Eksotik Indonesia

Taman Laut terindah di Indonesia yang mana?. Sulit untuk menilai mana yang terindah. Lantaran Indonesia memiliki banyak Taman Laut yang tersebar di berbagai perairan Indonesia. Dan hebatnya, semua Taman Laut itu indah dan telah menjadi lokasi favorit untuk menyelam (diving) di tingkat dunia. Taman Laut sendiri adalah sebutan tidak resmi untuk menyatakan daerah perairan yang memiliki keindahan dan kekayaan hayati bawah laut yang berada di dalam kawasan konservasi seperti Taman Nasional, Cagar Alam, ataupun Suaka Margasatwa. Di Indonesia tidak dikenal istilah Taman Laut. Yang dikenal biasanya adalah Taman Nasional Laut dan Cagar Alam Laut. Terlepas dari nama yang diberikan, yang pasti Indonesia telah dianugerahi berbagai kawasan perairan yang indah. Dan tulisan kali ini bukan bermaksud memberikan peringkat mana Taman Laut yang paling indah dan yang kurang indah. Anggap saja daftar ini sebagai contoh Taman Laut terindah di Indonesia. 

* Taman Laut Bunaken, Sulawesi Utara Taman Laut Bunaken merupakan bagian dari Taman Nasional Bunaken. Taman Laut Bunaken terletak teluk Manado, Sulawesi Utara, memiliki area seluas 75.265 dengan 390 spesies terumbu karang yang berada di sekitar pulau Bunaken, pulau Manado Tua, pulau Siladen, pulau Mantehage, dan pulau Naen. Taman Laut Bunaken layak disebut sebagai taman laut terindah di dunia lantaran keanekaragaman biota laut mulai terumbu karang, ikan duyung, lumba, ikan purba choelacanth dan berbagai jenis ikan hias lainnya. Taman laut Bunaken memiliki 20 titik penyelaman (dive spot) dengan kedalaman bervariasi hingga 1.344 meter.

* Taman Laut Raja Ampat, Papua Barat Taman Laut Raja Ampat merupakan bagian dari Suaka Margasatwa Kepulauan Raja Ampat yang terletak di Papua Barat. Lokasi seluas 60.000 ha dan merupakan taman laut terbesar di Indonesia ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Raja Ampat adalah kawasan dengan keanekaragaman hayati bawah laut terkaya di dunia. Saat ini saja telah teridentifikasi 537 spesies terumbu karang (75 % dari total spesies terumbu karang di dunia), lebih dari seribu spesies ikan karang dan 700 jenis moluska. 
  
*Taman Laut Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah Taman Laut Kepulauan Togean merupakan bagian dari Taman Nasional Kepulauan Togean yang terletak di teluk Tomini Sulawesi Tengah. Di sini diperkirakan mempunyai terumbu karang seluas 132.000 ha yang terdiri atas sekitar 262 jenis dan menjadi habitat bagi sekitar 596 jenis ikan, 555 jenis moluska, beberapa satwa langka seperti kima raksasa, penyu hijau, penyu sisik, dan paus pilot. 

* Taman Laut Selat Pantar, Nusa Tenggara Timur Taman laut Selat Pantar, Nusa Tenggara Timur yang meliputi perairan pulau Alor Besar, Alor Kecil, Dulolong, pulau Buaya, Kepa, Ternate, Pantar, dan Pura pun jadi Taman laut terindah di Indonesia. Tercatat, ada 26 titik diving yang memesona meliputi Half Moon Bay, PeterÂ’s Prize, Crocodile Rook, Cave Point, The Edge, Coral Clitts, Baeylon, The Arch, Fallt Line, The Pacth, Nite Delht, KalÂ’s Dream, The Ball, Trip Top, The Mlai Hall, No ManÂ’s Land, The Chatedral, SchoolÂ’s Ut, dan Shark Close. 

* Taman Laut Wakatobi, Sulawesi Tenggara Taman Laut Wakatobi merupakan bagian dari Taman Nasional Kepulauan Wakotobi yang meliputi pulau Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko dan terletak antara Laut Banda dan Laut Flores. Di sini terdapat 30 lokasi penyelaman (diving) yang menyajikan Pemandangan alam bawah laut Wakatobi dengan terumbu karangnya sangat menakjubkan. * Taman Laut Derawan, Kalimantan Timur Taman Laut Kepulauan Derawan berada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Selain pulau Derawan di kawasan ini juga terdapat pulau Maratua, Sangalaki, Pajang, dan Kakaban. Keindahan bawah laut taman ini bisa dilihat dari keanekaragam jumlah spesies karang yang mencapai 470 jenis. Selain menikmati terumbu karang, di sini juga dapat menikmati padang lamun, hutan bakau, dan aneka satwa air seperti penyu hijau, penyu sisik, paus, lumba-lumba, kima, ketam kelapa, duyung, dan ikan barakuda 

* Taman Laut Pulau Menjangan, Bali Perairan pulau Menjangan layak dianggap sebagai Taman Laut Terindah. Pulau yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat ini memiliki perairan berair jernih dengan jarak pandang mencapai 20-an meter. Beberapa lokasi diving di sini antara lain Pos Pertama, Pos Kedua, Cave Point, Bat Caves, Tenple Slopes, Anker Wreck, dan Garden Eeel. 

* Taman Laut Takabonerate, Sulawesi Selatan Taman Laut Takabonerate termasuk dalam Taman Nasional Takabonerate, Sulawesi Selatan. Laut Takabonerate dipercaya sebagai kawasan atol terbesar ketiga di dunia setelah Kwajifein (Kepulauan Marshall) dan Suvadiva (Kepulauan Maladewa). Luas total dari atol ini 220.000 hektar dengan sebaran terumbu karang mencapai 500 km² dengan 261 jenis terumbu karang. Selain itu masih terdapat berbagai taman laut lainnya yang keindahan dan pesona lautnya tidak perlu disangsikan seperti Taman Laut Banda (Maluku Tengah) Taman Laut Kungkungan (Sulawesi Utara), Taman Laut Teluk Jailolo (Maluku Utara), Taman Laut Pulau Weh (Aceh), Taman Laut Kepulauan Karimunjawa (Jawa Tengah) dan lain sebagainya.

27/01/10

Takut Preman...!!! Siapa Bilang???

Mendengar kata preman mungkin hati kita sedikit ciut. Preman yang selalu kita identikkan dengan seseorang yang bertubuh besar, seram, dan nakal serta sering membawa senjata tajam. Sehingga menyebabkan setiap melihat dan mendegar kata preman membuat kita selalu takut. Tetapi pernahkah kita sadar bahwa kita sudah terlalu tendensius dalam menilai seseorang??
Mereka tidak ingin menjadi seperti itu. Tapi apalah daya, ternyata kita juga yang memaksa mereka berbuat demikian.
Qoe mengenal banyak sekali preman dilingkungan sekitarku. Selain karena faktor orang tua yang mungkin sedikit disegani oleh mereka, qoe juga memberanikan diri untuk bergaul dan berbincang-bincang dengan mereka.
Ternyata bergaul dengan preman itu asyik sekali. Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa qoe ambil hikmahnya demi hidupku kelak. Ternyata memang benar kita yang mengaku diri orang baik-baik ini yang membuat mereka menjadi demikian.
Pernah suatu ketika qoe cerita-cerita dengan beberapa pemuda yang boleh dibilang sudah dewasa. Ia menceritakan bagaimana ia bisa masuk penjara dan sampai sekarang ini tetap menjadi preman. Waktu itu ketika perut sedang lapar-laparnya, ia berusaha meminta ke orang lain yang ia kenal, tetapi tidak ada yang mau menolong. Kemudian ia berusaha untuk meminjam kepada orang-orang yang mempunya uang, bukannya uang yang ia dapat tetapi makian yang ia dapatkan.
Setelah sekian lama mencari-cari uang untuk membeli makanan, akhirnya setan pun memasuki pikirannya. Terjadilah peristiwa penodongan terhadap seorang wanita muda. Setelah sempat sedikit menikmati hasil “jerih payahnya” ia pun berhasil diciduk oleh aparat kepolisian.
Setelah keluar dari penjara, ia pun memutuskan untuk menjadi preman. Penduduk yang selalu mendiskreditkan orang yang pernah di penjara sebagai orang jahat, menjadi landasan ia berbuat demikian.
Mendengar cerita darinya, qoe pun sedikit tersadar. Ternyata sebagian besar penduduk negeri ini hanya bisa berkata tanpa memberikan solusi. Mereka dengan besar mulut berbicara bahwa kejahatan harus ditumpas. Tapi tidak memberikan solusi bagaimana kejahatan itu ditumpas.
Kejahatan tidak bisa ditumpas dengan cara menangkap para pelaku kejahatan. Inti dari tindak kejahatan yang terjadi di negeri ini adalah ketimpangan ekonomi. Orang kaya yang selalu menyimpan uangnya seolah-olah uang itu akan dibawa mati sangat jauh berbeda dengan mereka orang-orang yang setiap hari selalu berupaya agar bisa makan. Makan sehari satu kali pun sudah cukup bagi mereka. Tidak ada terbesit dibenak mereka untuk membeli pakaian yang bagus dan menarik karena tidak mempunyai uang yang cukup.
Selain itu, mari kita ubah kebiasaan kita yang selalu men-cap seseorang yang keluar dari penjara itu sebagai orang jahat. Tidak semua dari mereka itu orang jahat. Malah qoe yakin mereka tidak ingin diri mereka menjadi orang yang jahat. Sebagai orang yang mempunyai Tuhan, mereka pasti ingin menjadi orang yang baik-baik. Tapi apalah daya, ternyata masyarakat lebih senang membuat mereka seperti it uterus tanpa mau memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Pernah suatu ketika Qoe berjalan sama mereka. Ketika dalam perjalanan tersebut terdengar suara panggilan adzan dari suatu masjid. Mereka dengan sigap dan perhatian menanyakan kepadaku apakah tidak sebaiknya sholat dulu? Mendengar pertanyaan tersebut dalam hati Qoe berkata, ternyata tidak selamanya preman itu seram. Ternyata preman itu juga manusia.
Semoga saja semakin banyak preman-preman yang bisa menemukan kembali jalan-jalan yang benar. Tentunya dengan kerja sama kita semua. Mulai sekarang, Qoe minta kepada semua agar kita semua bisa saling menghargai antar sesama. Harta tidak akan membuat seseorang mulia dengan memilikinya, harta akan membuat orang yang mempunya mulia jika harta tersebut digunakan dengan baik untuk membantu sesama sehingga terciptanya kesejahteraan bersama antara si kaya dengan si miskin sehingga tidak lagi orang miskin di negeri ini.