24/01/19

"Diskusi Nahkoda"

Ada yang menarik dalam perjalanan kegiatan gw kali ini. Kegiatan rutin dan pengumpulan data kawasan sesuai Surat Perintah Kepala Balai gw dari Tanggal 10 Januari hingg 13 Januari 2019. Tugas lapangan Perdana untuk awal tahun babi tanah dalam astrologi Tiongkok. Setelah segala hiruk pikuk administrasi dan rapat-rapat evaluasi dan target awal tahun seperti biasanya dilaksanakan sesuai dengan perintah pimpinan tertinggi, kami brangkat kembali dengan niat tulus. Untuk ibadah! gw tak muluk-muluk dah. Pokoknya ibadah sembari melalui diskusi gw bareng istri semalam sebelum berangkat.

Dalam perjalanan kali ini, tepatnya diatas kapal kayu bermuatan sekitar 7 GT serta bau khas "anyer" lautan yang biasanya klo nga terbiasa akan mual dan mabuk, beberapa orang masyarakat mengeluhkan tidak dibangunnya infrastruktur  krusial untuk sebuah peradaban manusia, yaitu listrik. Yah,,, mereka dengan emosinya mengatakan bahwa jikalau desa ini sudah masuk dalam negara lain, mereka akan bebas dari negara Indonesia yang katanya sudah 73 tahun telah merdeka. Sontak saja membuat gw makin berfikir dan merenung serta sampai merinding dengarnya, kali ini gw nga lebay tapi faktanya gw seakan-akan hanyut dalam pembicaraan mereka. Sementara sikap nasionalisme gw yang harus tetap gw pertahankan dan tugas-tugas yang diberikan negara kepada gw sehari-harinya membuat pikirianku berkecamuk tentang indonesia. Sikap ini didukung dengan gw tak menanggapi apapun (biasanya gw suka banget kayak gini) terhadap pembicaraan dan diskusi "nahkoda"
Gw akan selalu berfikir netral dalam politis, karena memang sebagai PNS gw dituntut untuk selalu netral. Untuk IndonesiaKu. Akan akan berbuat terbaik untukmu sesuai dengan bakat, kemampuan, kapabilitas dan profesionalismeku sebagai seorang konservasionis. Itu aja.