05/01/12

Monyet Karimunjawa (Macaca fascicularis karimoenjdawae) di Taman Nasional Karimunjawa (TNKj)

Pagi itu, jarum jam sudah menunjuk angka enam. Sedikit bergegas, kami mulai berkemas: kamera, baterai cadangan, binokuler dan sebotol air sudah memenuhi ransel. Berjalan kaki selama hampir 45 menit, menyusuri pantai timur Pulau Karimunjawa, sampailah kami di sebuah teluk. Deretan hutan mangrove menjadi penanda perjalanan kami akan berakhir. Hembusan angin musim timur mengiringi langkah kami ke Dusun Legon Lele. 

Dari jauh nampak segerombolan monyet turun dari pohon kelapa, beberapa masih bersembunyi, seperti barisan tentara mengintai lawan. “Krra, krra, krra, krra!” Suara dari Macaca itu untuk mendeteksi keberadaan kelompoknya. Kehadiran kami bukan ancaman bagi mereka. Sambutan yang menggembirakan, bisik kami dalam hati. Di hadapan kami, Macaca fascicularis karimondjawae, berjarak hanya 300 meter dari tempat kami berdiri. Perlahan, kami menyiapkan kursi lipat hitam, binokuler dan tripod menjadi alat bantu mengamati satu-satunya primate penghuni pulau ini. 

Satwa yang sedang menyantap buah kelapa itu satu dari empat subspesies yang hidup di pulau-pulau kecil di Indonesia. Tiga lainnya: Macaca fascicularis fuscus hidup di Pulau Simeulue, Sumatera; Macaca fascicularis lasiae di Pulau Lasia, Sumatera; dan Macaca fascicularis tua di Pulau Maratua, Kalimantan. Macaca fascicularis, monyet! asli! Asia Tenggara, tersebar di berbagai tempat di Asia: Semenanjung Myanmar, Thailand, Malaysia, Indocina bagian selatan, Filipina, Sumatera, Jawa dan Kalimantan. 

 Monyet ini termasuk hewan liar yang mampu mengikuti perkembangan peradaban manusia. Macaca secara umum masih aman, bukan termasuk satwa yang dilindungi. Namun, lantaran perburuan yang terus terjadi, pemanfaatan Macaca fascicularis diatur dalam keputusan Menteri Kehutanan No. 26/1994. Monyet jantan memiliki panjang tubuh antara 385-648 mm dengan berat 3,5 – 8 kg, sedangkan betina 400-655 mm dengan berat 3 kg. Warna tubuh bervariasi: mulai dari abu-abu sampai kecoklatan, dengan bagian ventral berwarna putih. Hidungnya datar dengan ujung hidung menyempit. 

Anak Macaca yang baru lahir berambut kehitaman. Ekor yang melebihi panjang tubuh bermanfaat bagi monyet ekor panjang untuk menjaga keseimbangan saat beraktivitas di cabang kecil. Ciri khas monyet ras karimondjawae terdapat pada bagian atas kepala yang nampak seperti jambul. Pulau Karimunjawa, dengan ketinggian 506 meter di atas permukaan laut, menjadi habitat yang sesuai bagi primata ini. Hutan sekunder dengan tanaman Uyah-uyahan (Chionanthus rami!orus), Jambon lapis (Sizygium pycnatum), Jambon pletik (Sizygium syzygioedes) menjadi sumber pakan bagi monyet pemakan segala (omnivora) ini. Komposisi pakan monyet: 60 persen buah-buahan, dan selebihnya berupa bunga, daun muda, biji, umbi.

Monyet ekor panjang terkadang turun sampai ke formasi mangrove yang berbatasan langsung dengan hutan hujan tropis di Taman Nasional Karimunjawa. Selain di Legon Lele, penduduk sekitar kawasan sering menjumpai si monyet di Kemloko, Legon Boyo, Cikmas, dan Nyamplungan. Sebaran satwa yang masih berkerabat dengan beruk mentawai dan monyet hitam sulawesi ini dapat juga dijumpai pada formasi mangrove di Legon Jelamun, Pulau Kemujan. Monyet yang hidup di daerah bakau terkadang memakan kepiting atau jenis moluska lain. Tak mengherankan, beberapa peneliti menyebutnya dengan macaca pemakan kepiting—crabs eating macaque. Primata ini hidup berkelompok dengan jumlah individu berbeda di setiap kelompok. Pada hutan bakau umumnya berjumlah 10-20, sedangkan pada hutan primer bisa mencapai 20 – 30 ekor. Di Karimunjawa lebih sering dijumpai kelompok kecil, 10 – 20 ekor. Besar kecilnya kelompok tergantung pada ada tidaknya sumber pakan yang tersedia di alam. Penggabungan kelompok dapat terjadi bila jumlah pakan yang tersedia lebih dari cukup. Perkiraan populasi monyet ekor panjang dalam kawasan dengan luas 1.285,5 hektare ini mencapai 267 ekor. Monyet ekor panjang dapat bertahan hidup selama 37 tahun dengan masa hamil antara 160-170 hari. 


Macaca bergerak dengan empat anggota badannya, dia bisa melakukan loncatan mencapai 5 meter. Jelajah harian satwa endemik Karimunjawa ini 1.500 meter, mulai dari 10-80 hektare di hutan primer dan 125 hektare pada hutan bakau. Sumber pakan yang tersebar pada habitat alami menjadi faktor pendorong luasnya daya jelajah macaca. Macaca mulai beraktivitas ketika matahari terbit hingga terbenam. Di siang hari ini, saat melintasi perbatasan hutan Legon Lele dengan rumah penduduk, gerombolan macaca sedang berlompatan atau sekedar bermain dengan anakanaknya. 

Untuk bisa mengamati macaca, selalu perhatikan jarak agar dia tidak terganggu dengan kehadiran kita. “Krra!”, suara yang sempat terdengar tadi merupakan cara macaca untuk mendeteksi keberadaan kelompok. Macaca mengeluarkan suara keras dan melengking (onomatopoeic) ketika merasa terancam. Kemarin sore, dua orang pria setengah baya menyambangi asrama kami. “Pak, piye iki omahku rusak disawati monyet,” seru pria itu berapi-api. Eternit rumahnya pecah, jam dinding rusak, anak balitanya terluka karena dilempar bola lampu oleh monyet yang merangsek masuk ke lahan dan rumahnya. 

Kami sangat memahami keluhan dari warga Legon lele ini. Kebun warga dengan jenis tanaman: mangga, jambu mete, jambu biji, pisang, jengkol, nangka, ketela rambat, singkong uwi dan gembili, menarik monyet ekor panjang. Ya, konfik seperti ini acap kali terjadi dalam enam bulan terakhir. Tiga laporan serupa kami terima dari warga. Pengecekan lokasi, untuk mengetahui kerusakan dan upaya mengantisipasi perburuan liar menjadi tugas kami untuk meminimalkan ketegangan akibat ulah sang monyet.

Meskipun bukan! satwa yang dilindungi bukan berarti monyet ekor panjang bisa dengan bebas diburu akibat ulahnya itu. Perebutan ruang antara manusia dan satwa menjadi tantangan dalam pengelolaan satwa ini. Lembaga dunia IUCN yang menentukan tingkat kelangkaan satwa pun tidak memasukkan jenis ini dilindungi. Data de"cient, status yang disandang monyet khas Karimunjawa menunjukkan masih banyak celah untuk mengkajinya dalam hal sebaran, ekologi dan populasi.


Susi Sumaryati

1 komentar:

Cantika mengatakan...

wisata di >> karimunjawa memang joss.!!
yuk tetap jaga kelestariannya dengan tidak memegang atau menginjak karang.
biar tempatnya tetap oke, alamnya senantiasa indah alami. info harga paket karimunjawa juga masih terjangkau, apalagi untuk anda yang ingin menghabiskan waktu liburan setelah menikah, cukup pilih paket honeymoon karimunjawa, cocok untuk 2 orang yang sedang berbulan madu dan untuk anda yang suka petualang, ada juga paket karimunjawa murah ala backpacker, enak to... dimana lagi ada yang semurah harga paket wisata karimunjawa disini.
informasi selengkapnya paket tour karimunjawa bisa juga cek sumbernya disini >> harga paket karimunjawa