27/07/12

Tips Rahasia Memperbanyak Follower Twitter



Follow @viqarchu
Blogger dimanapun anda berada, mau diatas bumi kek, diantariksa, diatas perut atau di neraka. Dengan siapapun anda malam ini apa kabar? Apapun kabarnya gw disini semakin ganteng aja kok. Tenang aja, udah ada yang punya tentunya. Istri kesayangan yang jauh di mata beda jutaan ribu kilo meter. Akh... gw ngak akan curhat cuy.

Gw pikir-pikir kayanya blog gw monoton aja pada tulisan-tulisan formal konservasi dan hutan, kali ini gw pengen nulis tentang tips trik yang telah gw coba lakoni beberapa tahun sebelum gw keterima sebagai orang konservasi. Penelitian ini tentunya tidak dimotori atau dibiayai oleh pihak asing apalagi dalam negeri. Disini gw ingin menyampaikan kabar hasil penelitian gw melalui riset selama beberapa tahun ngetweet baik di laptop ataupun di HP gw. Penelitian ini murni lillahi taala mumpung sekarang bulan puasa dengan seruan utamanya "indahnya berbagi". Penelitian ini adalah hasil riset secara mendalam dengan mempertimbangkan aspek ilmiah, nurani, perasaan dan kemanusian. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kasus jaman sekarang yang punya banyak followers itu kian didambakan oleh hampir 99,99 persen pengguna twitter, tanya kenapa? meneketehe, tanyakan saja kepada orang orang yang pengen punya banyak follower karena selain gw nga tau, bukan tugas dan fungsi gw tentunya. Tugas gw maen di hutan dan menjaga kelestarian hutan demi SELURUH umat manusia di muka

22/07/12

PEMBINAAN HABITAT SATWA LIAR DI KAWASAN KONSERVASI

Kelelawar di kaki Gunung Sakora
PEMBINAAN HABITAT SATWA LIAR DI KAWASAN KONSERVASI

 Disampaikan pada on the job training pengelolaan kawasan konservasi bagi staf fungsional Balai Taman Nasional Bukit Duabelas, tanggal 26 – 30 Juli 2010 Oleh : Kepala Balai KSDA Jambi


PENDAHULUAN 
(1) Kawasan konservasi sebagai kawasan yang di dalamnya terkandung berbagai hidupan liar, dan ekosistemnya berperan sebagai penyangga kehidupan dengan potensi keanekaragaman hayati yang tidak ternilai. 
(2) Potensi keanekaragaman hayati dan kawasan merupakan kebanggaan nasional sebagai kekayaan yang harus dijaga keberadaan dan kelestariannya sebagai tanggung jawab seluruh komponen bangsa (pemerintah bersama masyarakat secara luas) maupun komunitas global (dunia internasional).
(3) Potensi keanekaragaman hayati : Indonesia dengan luas daratan yang hanya sekitar 1,3 % dari keseluruhan permukaan bumi. Kaya akan berbagai species hidupan liar dan berbagai tipe ekosistem, dengan tingkat endemitas tinggi. Kekayaan bumi Indonesia tersebut menurut World Conservation Monitoring Commitee (1994) mencakup 10% dari seluruh spesies Tumbuhan berbunga di dunia, 12% dari seluruh spesies Mamalia di dunia, 16% dari seluruh spesies Reptil dan Amphibi di dunia, 17 % dari seluruh spesies Burung di dunia dan 25 % dari seluruh spesies Ikan di dunia. Potensi sumber daya alam Indonesia saat ini tidak kurang dari : 25.000 jenis flora dan 400.000 jenis fauna. Jenis-jenis tersebut antara lain : 5.000 jenis anggrek, 500 jenis paku-pakuan, 1.539 jenis burung, 500 jenis mamalia, 10.000 jenis pohon, 2.500 jenis moluska, 214 jenis krustacea, 3.000 jenis ikan, 6 jenis penyu, 25 jenis Mamalia laut, Terumbu karang 450 jenis. 
(4) Potensi kawasan : Luas kawasan hutan yang mencakup sekitar 120, 35 juta hektar atau 62,6 % dari total luas daratan 192,16 juta hektar, yang terdiri atas hutan lindung, hutan produksi, dan hutan konservasi. Sedangkan kawasan konservasi yang telah ditetapkan sampai saat ini adalah 519 unit dengan luas total 28,16 juta hektar dengan perincian 50 unit Taman Nasional seluas 16,38 juta hektar; 119 unit Taman Wisata alam seluas 1,06 juta hektar; 21 unit Taman Hutan raya seluas 343.454 hektar; 14 unit Taman Buru seluas 219.392 hektar; 237 unit Cagar Alam seluas 4,73 juta hektar dan 77 unit Suaka Margasatwa seluas 5,42 juta hektar.
(5) Pembinaan habitat merupakan kegiatan untuk memperbaiki keadaan habitat guna mempertahankan keberadaan atau menaikan kualitas tempat hidup satwa agar dapat hidup layak dan mampu berkembang. 

HUTAN SEBAGAI HABITAT SATWA
Satwa liar dapat menempati tipe habitat yang beranekaragam, baik hutan maupun bukan hutan seperti tanaman perkebunan, tanaman pertanian (sawah dan ladang), pekarangan, gua, padang

14/07/12

Kopi Galau

ber-kopi bareng masyarakat
Minum kopi atau ngopi, mungkin merupakan satu dari sekian banyak kata kerja dalam kamus bahasa Indonesia. Semua mendefenisikan aktivitas; dari negosiasi tukar pikiran, reuni dengan kawan lama, sampai bincang-bincang formal dikalangan menengah atas. Smua bisa dilakukan dengan ngopi

Ngopi juga tak mengenal status dan strata social di masyarakat kita. Kelas atas, menengah, punya duit bahkan sampai orang paling miskin pun pernah melakukan ritual ngopi. Dari warung kopi kelas atas yang berada di mall-mall gede sampai dipangkalan-pangkalan ojek. Tidak ada diskriminasi soal ngopi semua menikmatinya. 

Klo gw boleh menganologikan aktivitas minum kopi dengan kehidupan gw sehari-hari kayaknya paling pas deh, kadang kaya, kadang miskin sama halnya kadang pahit atau manis sebuah kopi yang terrseduh dari cangkirnya. Cangkir kopi itu adalah otak dan atau perasaanku. 

Seringkali kita menikmati kopi adalah lebih banyak pahit dibanding manisnya, lebih banyak ampas daripada kopinya. Jauh dari keluarga saat bertugas, seminggu doang bersama istri tercinta, harga-harga meroket naik tidak disertai kenaikan gaji, hutan rusak akibat pembalakan liar, banjir dan longsor dimana-mana hingga kualitas kita sebagai

13/07/12

Tulisan tak memiliki SIM


Sepagi ini buka laptop 13 Juli 2012 – 10.07 seperti biasa sambil dengen winamp diatas meja kerjaku.


Tiba-tiba nga tau dapat angin apa diriku “sepagi” ini harus buka laptop ditemani segelas kopi low acid dan merokok. Tidak seperti biasanya. Kopi sepagi ini dapat menyebabkan sakit maagku kambuh tapi kenapa aku bisa mencicipinya. Apa mungkin aku tak bisa menghindari yang namanya kopi. akh tidak penting…


Ditemani musik winamp dilaptopku sembari membuka media sosial yang aku punya serta membalas komentar-komentar mereka tentang tulisanku yang masuk di Majalah Konservasi Alam. Terima Kasih semuanya… Akhirnya tulisan perdanaku masuk disalah satu majalah besar dilingkup kemenhut. Semua anugrah dan kegembiraan tak terdefenisikan oleh orang lain. Aku sangat senang dengan hadirnya tulisanku. Awalnya aku tak pernah di hubungi tim redaksinya, aku mengetahuinya dari seorang teman (wedkita) yang kini udah dimutasi ke BKSDA Kalimantan Selatan kebetulan mengikuti diklat jurnalistik oleh PJLK2HL di Bogor. Alhamdulillah (lagi)

08/07/12

Hujan; Lalu aku merindukanmu, istriku…

Meja Kerjaku, 08 Juli 2012 jam 19.43 tertera di desktop laptopku

Malam ini entah mengapa aku benar-benar merindukan sosok istriku yang jauh disana. Puluhan ribu kilometer atau bahkan lebih mungkin jaraknya.

Istri yang hanya sesaat berada didekapku. Kataku dalam hati tanpa pernah mengeluarkan suara lantang ke penguasa diatasku “sungguh kejam negara ini, tega memisahkan kami yang baru seumur jagung nikah dan harus berpisah” tapi pelakku “ bukan, bukan negara yang kejam; ini adalah konsekuensi logis dari pilihan yang kami pilih. Dan kami harus siap dengan semuanya” logika sederhana baik positif maupun negative semisal “akh.. udah resign aja istriku, gaji gw masih cukup buat kita” selalu beradu di kepalaku ketika menunggu waktu SPT dengan berkhayal, nongrong dimeja kerja atau sekedar bercengkrama dengan teman-teman senasip didepan TV yang

Konservasi Alam dalam Kacamata Islam

Muqadimah 
Kawasan konservasi di SPTN Wilayah I
Alam dan lingkungan hidup tidak terpisahkan dari manusia. Dan peran manusia adalah sebagai sosok yang memakmurkan bumi termasuk memelihara alam dan lingkungan hidup. Secara ekonomis alam dan lingkungannya sangat berharga dan penting. Telah banyak dicatat kerugian yang diakibatkan kerusakan alam dan lingkungan, baik secara langsung seperti permbalakan liar (ilegal logging), maupun tidak langsung seperti sedimentasi di waduk ataupun bendungan yang membuat PLTA tidak beroperasi sehingga menurunkan daya listrik. Pada kondisi tertentu keadaan ini mengakibatkan pemadaman bergilir yang akhir-akhir ini sering terjadi. Dalam skala yang lebih luas, bumi terancam oleh pemanasan global dan efek rumah kaca yang dapat menenggelamkan pulau-pulau dan kota-kota tertententu di dunia. Berbagai tindakan telah dilakukan oleh negara-negara di dunia. Dalam Konverensi Tingkat Tinggi tentang lingkungan hidup di Kyoto, Jepang beberapa kesepakatan telah dicapai untuk mengurangi emisi setiap negara. Namun, Amerika Serikat tidak ikut menandatangani perjanjian penurunan emisi tersebut. Sebuah arogansi yang untuk kesekian kalinya ditampakkan. Dalam khasanah ilmu pengetahuan barat, konservasi merupakan cabang dari ilmu yang disebut ekologi. Ekologi berasal dari akar kata yang sama dengan ekonomi, yaitu oikos (rumah tangga). Sehingga ekologi adalah ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup, yaitu mengenai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan bendabenda mati disekitarnya. Dalam perspektif Islam, menjaga lingkungan hidup adalah kewajiban, yaitu sebagai salah satu kewajiban manusia sebagai

25/06/12

Dear Istriku Sayang...





Apa kabar sayang? bagaimana dengan hari mu jauh dari aku? seperti hari-hari biasanya saja,
sembari menunggu surat sakti dari penguasa direktorat ini.
Nasib memang tak selalu bersahabat dengan keinginan,
 layaknya kunang-kunang yang kadang tak lagi bersahabat dengan malam.
Aku hanya bisa bilang. Aku kangen pelukan dan diskusi hangatmu diatas ranjang sebelum kita tertidur pulas.
Istriku... Sungguh bukan mauku begini, tapi bayangkan berapa juta orang sepertiku malam ini.
Berapa banyak suami terpisah ribuan bahkan jutaan kilometer seperti kita untuk dikasihani.
Sungguh bukan mauku berteman rindu seperti ini sayang
Ingat Istriku... Saratus keinginan pasti harus ditebus dengan seribu bahkan jutaan pengorbanan, Adakah yang sia-sia? Sungguh bukan mauku seperti ini. Sungguh.....!!!!
Andai saja kau membacanya, janganlah bersedih. Tetap tegar untuk semua proses ini. 




18/06/12

Study Banding ke TN. Bali Barat coy

Lama tak menulis. Jangankan menulis, untuk menghubungi istri dan keluargaku saja 3 bulan terakhir bisa dikatakan berkurang, sok sibuk... Mungkin bisa dikatakan seperti itu akan tetapi memang beberapa bulan belakangan aktivitas tugas negara semakin membuatku mengindahkan urusan keluarga dan privasi itu sendiri. Aneh... Yah emang aneh, diriku sejak dilantik menjadi Kepala Resort di SPTN  Wilayah I sungguh meningkat tajam, misalnya saja pada bulan April tepatnya tanggal 21 April sampai 2 Mei 2012 aku ditugaskan ke Taman Nasional Bali Barat, Selanjutnya 3 Mei Taman Nasional Bukit 12 Jambi hingga 28 Mei di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Sulawesi Selatan (Di Jambi bukannya jengukin istri cuy? Di Makassar bukannya di BDK Makassar cuy? Biar aja… tulisan tulisan gw biar keren dan sok menjelajah aja coy, maklum masih muda perlu eksis biar manis) awal mula perjalanan dinas yang mengesankan buatku. Selain bisa belajar banyak di Taman Nasional tersebut diriku tentunya bisa belajar dengan keunikan yang ada didalamnya. Baiklah... Aku akan bercerita tentang perjalanan-perjalanan yang aku lakukan 3 bulan terakhir. 
 
21 April - 26 April 2012 at Taman Nasional Bali Barat. 

Taman Nasional Bali Barat merupakan salah satu dari 5 Taman Nasional model di Indonesia yang bisa dijadikan percontohan, bagaimana tidak selain kondisi umurnya yang sudah hampir pensiun kalau dia adalah seorang PNS juga lokasi aksebilitasnya sangat mendukung baik dari Bayuwangi cuma dengan menumpangi kapal ferry seharga 5 ribu rupian atau gratis ketika menggunakan seragam PDH atau dari Denpasar itu sendiri dengan memakan waktu kurang lebih 3 jam nga membuat pantat anda tepos tentunya apalagi disepanjang perjalanan banyak view aneh diantaranya ritual agama Hindu dan sama skali tak menemukan mesjid. Bicara soal mesjid sepanjang perjalanan dari denpasar hingga Gilimanuk memang bener-bener tak ada, kami aja ketika ingin shalat magrib tak tau harus gimana yah terpaksa nyerahin diri dalam bus ketika itu. Tepat tanggal 21 April siang itu pesawat yang kami tumpangi berlandas di bandara Ngurah Rai, sesampai dibandara aku menghubungi seorang teman si Kadek BKSDA Bali untuk memohon petunjuk jalan mencapai Gilimanuk tempat kantor TN Bali Barat bersarang. Kami menyewa rental mobil yang didesain khusus karena memiliki rangka diatas seperti mobil-mobil adventure milik bli ke Gilimanuk seharga 500ribuan. Siang itu perut kami udah keroncongan dan disepanjang jalanan di Denpasar terpampang tulisan "menyediakan babi guling spesial dan renyah" sampai-sampai kata bli sopir yang membawa kami ke Gilimanuk nantinya bahwa babi guling itu merupakan makanan khas dan nikmat di Bali. Akhh akhirnya saat itu aku mengusulkan untuk makan di warung makan padang saja sebagaimana ketika aku di Manado dulunya. Pasti warung padang... Lumayan, total nominal yang dimakan tak semahal ketika di bandara hasanuddin  Makassar transit kami tadi pagi yang sekedar ngopi tertera dinota 400an ribu. Memang hanya orang-orang gilalah yang makan di Bandara kali yak? Mobil melaju kencang menuju arah barat dari kota denpasar, sepanjang perjalanan aneh saja banyak orang dan bule yang tak memakai baju berkeliaran layaknya film-film jaman purba atau film tarzan X dan jene di hidden folder laptopku, siang itu dengan kondisi ngantuk tapi mata aku takan ku biarkan tertutup sedetikpun untuk menikmati keindahan sepanjang jalan Denpasar-Gilimanuk. Banyak yang aneh aku saksikan, mulai dari setiap mobil yang melintas awalnya harus minta pemberkatan dulu di pura-pura yang tersedia banyak sampai dentuman ombak menjulang ke langgit yang kian tinggi atau sekedar menikmati tulisan "sedia babi guling" yang tak lazim seperti biasanya. Tapi dalam benakku inilah Bali coy... Ini Bali bukan Arab atau Aceh (kayak udaah pernah ke aceh aja lu dul) 

Sore kami nyampai. Gilimanuk.. Yah Gilimanuk... Banyak tulisan-tulisan terpampang "anda memasuki wilayah Taman Nasional Bali Barat" atau seruan-seruan konservasi misalnya "lestarikan hutan TN Bali Barat" "waspada api", "dilarang menebang" atau bla bla bla seperti anjuran pak menteri untuk melestarikan hutan indonesia. Oh ya?? Ya eyalah... Rental kami mendarat di Pondok Lestari saat itu, eh ternyata si pemilik pondok tersebut adalah orang Makassar tawwa,  na taunnya ini blo rental di?. Maka dengan sok akrabnya dan aku gunakan pendekatan kesukuan biar gratis nginepnya dan total pengeluaran negara yang seharusnya ada bisa diminimalisir masuk kantong pribadi heheheee.. Tapi ternyata tidak, harus tetap membayar; bodoh... Memang harus bayar, namanya juga hotel! Nga sampai buang kentut di Hotel Lestari Gilimanuk ternyata salah seorang staf Balai Taman Nasional Bali Barat dateng dengan mobil ford patroli polhut untuk menawarkan kami nginap di guest house milik TN BB mereka ternyata telah menyediakannya. Dalam pikiran aku saat itu "horeee... Akhirnya dapat yang gratis, berarti ntar duit SHU perjalanan dinas banyak donk" maka dengan

14/04/12

Dasar-Dasar Global Positioning System (GPS)

A. Pengertian 

Global Positioning System (GPS) adalah konstelasi dari 24 satelit NAVTAR (Navigation satellite Timing and Ranging) yang dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, semula untuk memenuhi kebutuhan militer dalam penentuan posisi, kecepatan dan waktu secara teliti dalam segala cuaca di daratan, lautan, dan udara. Dengan persetujuan US Congress, GPS kemudian dikembangkan untuk aplikasi non militer.Dalam sejarah perkembangannya, GPS merupakan proyek lanjutan dari sistem satelit TRANSIT atau satelit Doppler yang juga telah dikembangkan untuk aplikasi non militer. 

GPS sebagai suatu sistem terdiri dari tiga segmen utama, yakni space segmen, control segmen, dan user segmen. Space segmen merupakan subsistem yang berada di angkasa, terdiri dari 24 satelit (21 aktif dan 3 cadangan) yang mengorbit pada ketinggian 20.200 km dari permukaan bumi. Dua puluh empat satelit tersebut mengorbit dalam enam bidang orbit, masing-masing bidang orbit memuat empat satelit. Dengan kontelasi satelit seperti tersebut, sembaran tempat di muka bumi akan dapat mengamati sekurang-kurangnya empat satelit pada setiap saat. Control segmen merupakan otak dari GPS. Sistem satelit GPS dikendalikan dari Falcon Air Base di Colorado Spring, ColoradoUSA. Segmen ini juga dilengkapi dengan empat stasiun monitoring dan empat stasiun distribusi. Masing-masing satelit akan melewati satsiun monitoring dua kali sehari. User atau pengguna adalah semua pengguna yang memanfaatkan sinyal satelit GPS untuk navigasi dan penentuan posisi dengan menggunakan receiver GPS dan perangkat lunaknya. 

B. Sistem Kerja GPS 

Teknik penentuan posisi GPS adalah dengan mengetahui dan mengukur jarak dan posisi beberapa satelit terhadap seceiver GPS, sehingga dari interseksi sinyal beberapa satelit akan didapat posisi tepat GPS receiver di bumi. Pengukuran berdasarkan sinyal tiga satelit hanya akan mendapat posisi 2D, sedangkan untuk mendapatkan hasil posisi 3D yang akurat dibutuhkan hasil pengamatan minimal 4 sinyal satelit. Terdapat tiga metode untk penentuan posisi yaitu : 

1. Autonomous 
Mengumpulkan data posisi menggunakan receiver GPS tanpa melakukan koreksi. Banyak dilakukan oleh pemakai GPS tipe navigasi. Hasil akurasi yang diperoleh < 10 meter. 

2. Diferensial 
Proses pengukuran posisi menggunakan receiver GPS lebih dari satu, dengan salah satu receiver sebagai base stasiun. Data base satasiun selanjutnya dipergunakan untuk mengoreksi data receiver lainnya yang bergerak (rover). Metode ini memberikan akurasi centimeter hingga 5 meter. Sinyal yang digunakan mempunyai kode L 

3. Phase diferensial 
Teknik koreksi dengan menggunakan sinyal dengan kode P(Y) yang memberikan akurasi 10 cm – 30 cm. 

C. Sumber-Sumber Kesalahan GPS 

Akurasi posisi yang terekam oleh receiver GPS dipengaruhi oleh berbagai factor. Kontribusi gangguan dari masing-masing factor kesalahan tidak sama. Faktor terbesar yang (dulu) dianggap paling besar potensinya dalam mengurangi akurasi GPS adalah Selective Availability. Faktor lingkungan seperti karakteristik obyek dalam memantulkan sinyal turut meningkatkan kesalahan. Kesalahan dapat diminimalkan dengan memahami secara benar teknik setup GPS danteknik perekaman data di lapangan. Terdapat tiga factor utama yang berpotensi meningkatkan kesalahan GPS, yaitu : 

Explore to 3 Puncak Gunung Api


Pulau Ringgit, 10 April 2012 - 23.21 diposting melalui smartphoneku

Saat ini aku dilapangan, tepatnya di pulau ringgit atau julukan lain terhadap pulau una-una. Pulau yang terdapat gunung colo tersebut kini tanpa lampu dengan penghuni kurang lebih 200 kk. 

Kawah Gunung Colo
Kali ini kami berdua dengan mas wawan melaksanakan dua kegiatan yang dirangkum menjadi satu sudah begitu dengan dana oprasional memadai dari negara tentunya tapi sesuai intruksi dan perintahj kepala seksi kami cuma melaksanakannya berdua dengan alasan biar kami bisa memininalisir anggaran sehingga hasil akhirnya terdapat banyak sisa. Yah seperti itulah kondisi abdi negara seperti kami dalam melaksanakan perjalanan dinas. Ya Allah semoga apa yang aku beri ke istriku disana bersifat halal. Walaupun nuraniku teriak sepertinya aku sudah asik dengan "budaya" seperti ini tanpa merasa risih dengan sistem yang ada kendatipun saat-saat seperti ini aku harus turun langsung ke lapangan dibandingan dengan teman-teman kantor yang lain. Sok suci... Entahlah? 

Kemarin tepat tanggal 6 April aku dan mas wawan menaklukkan 3 gunung berapi di pulau ini. Yaitu gunung sakora, gunung ambi dan gunung colo. Luar biasa pengalaman yang kami dapatkan mulai dari perjalanan yang setealh aku perhatikan di alat GPS ternyata sejauh 17,97 km jalan kaki, menuruni tebing yang curam dibawah jurang secara penglihatan tertutup oleh daun pakis hingga hal-hal mistis dari gunung tersebut yang aku tak bisa jelaskan secara mendetail melalui coretan ini. Luar biasa pengalaman yang kami dapat yang berakhir pada rekor baru dalam perjalanan petualanganku menaklukkan tiga gunung dalam sehari penuh.

Perjalanan kami berawal dari dusun una-una stap dengan menggunakan kederaan bermotor berupa sepeda motor kami menelusuri pinggiran pantai layaknya pembalap trail dengan kondisi lumpur, melewati jembatan pohon kelapa dan naik turun bukit. Seruu... Sesampai disungai besar sepeda motor kami tak mampu melanjutkan perjalanan yang memaksa kami dan tim terdiri dari mas wawan, si feri (pamhut) dan raden (penunjuk jalan) harus berjalan kaki. 

Perjalanan kami dimulai dengan menelusuri sungai besar. Subhannallah... Maha besar Allah... Luar biasa alam... Dan begitu kecilnya manusia ketika itu dalam benakku. Bekas letusan gunung Colo tahun 1983 masih saja meninggalkan bekas mulai dari tekstur tanah hingga ketinggian tebing serta kedalaman jurang yang kami tempuh membuat kesimpulan dikepalaku bahwa manusia sungguh tak berdaya. Yaa... Kami kecil!
Sesampai dipuncak hal paling menegangkan selama pengembaraanku menelusuri gunung adalah ketika kami harus melewati tebing yang dibawah jurang tetapi untungnya secara psikologis tak membuat kami takut karena tertutup oleh semak pakis-pakisan yang menghalangi dasar jurang. Ketika itu kami melintasi tebing tanpa alat sedikitpun, hanya mengandalkan keterampilan sebagai manusia biasa yang minim pengalaman. Sampai-sampai ketika itu aku dan mas wawan gemeteran saking gugupnya harus melintasi tebing itu. Setelah kami sanggup melalui tebing, kami pun melanjutkan perjalanan. Perjalanan beberapa meter kedepan dan kami harus menuruni jurang dengan ketinggian kurang lebih cuma 10 meter. Aku sebagai ketua tim langsung memutuskan untuk beristirahat sebentar berhubung perut kami sudah keroncongan makanya harus makan dengan bekal yang kami bawa. Makanan pada saat itu setiap orang tidak memakannya sampai habis tetapi disisakan sedikit untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yaitu harus bermalam di gunung itu.

Si Feri pamhut kami yang "masih" rajin karena baru saja diangkat sebagai "honorer" di Taman Nasional mengambil inisiatif menebang kayu besar untuk dijadikan tangga menuruni jurang tersebut. Dan idenya ternyata cemerlang. Ketika itu layaknya seorang peserta diklat polhut di Lido kami melakukan gaya "flaying fox" bukan menggunakan tali tapi kali ini menggunakan kayu yang berujung pada kemaluan aku yang sakit karena gesekan. Akhirnya kami berhasil menuruni jurang tersebut dengan kemiringan 90 derajat. Perjalananpun dilanjutkan dan beberapa meter kedepan kami mendapatkan jurang yang lebih curam lagi hingga memutuskan kami untuk kembali dan berbalik arah.

Sementara kondisi kami yang mulai "drop" kami harus menemukan jalan keluar dari puncak gunung ambu tersebut. Kami menenangkan diri tepat dipuncak gunung yang dimana kiri kanan kami adalah jurang. Tempat kami berisitirahat adalah puncak, dengan lebar jalan setelapak kaki kami hingga bergerak sedikit menyebabkan kami jatuh mengelinding ibarat bola, sudah seperti itu semutpun mengerumuni kaki kaki kami. Luar biasa...
Menghabiskan rokok beberapa batang kamipun melanjutkan perjalanan hingga mendapatkan jalan keluar yang lumayan terjal saat itu sendal gunung yang aku gunakan putus memaksaku jalan dengan kaki tidak normal. Dalam benakku saat itu menyerah karena kondisi alam dan kondisi badan yang sudah tidak stabil, kepala semakin pusing mungkin karena kekurangan oksigen dan kaki yang sudah lecet. Sama seperti mas wawan. Ingin menyerah saja. Dengan terpingkal pingkal akhirnya kami bisa turun dan mendapatkan sungai dibawah, saat itu terjadi penyesalan karena kami salah arah. Danau gunung colo ternyata berada dikaki gunung sebelah. Semakin droplah kami semua. Sudah hampir sore, aku memutuskan agar tim pulang karena berhubung perlengkapan kami kurang memadai untuk melakukan pendakian malam. Sesampai ditepi sungai kami balik arah pulang dan sekitar jam 6 sore kami tiba dititik koordinat awal tempat dimana motor kami diparkir. Sungguh luar biasa....

Besok pagi kami berencana pulang ke Wakai dengan menumpang kapal penumpang pukul 7 hari rabu 11 April 2012. Ditemani suara ombak terdengar disini, dilantai 2 penginapan masyarakat yang kami tinggali membuat sebenarnya seseorang bisa tidur lelap dengan kondisi badan yang pegal-pegal karena pendakian kemarin tetapi tidak pada diriku. Aku hanya menginggat istriku yang jauh di Sumatera sana sembari membuat tulisan ini di smartphone yang aku miliki tanpa sinyal sedikitpun. Aku merindukannya dari Pulau ini. Una-una Island... Pulau yang kaya dengan hasil alamnya.

07/03/12

Konservasi Tradisional ala Masyarakat Dayak

Praktik konservasi tradisional tentu saja tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan asli masyarakat sekitar hutan karena berdasarkan pengetahuan asli itulah masyarakat mempraktekkan kaidah-kaidah konservasi. Hingga saat ini istilah konservasi tradisional belum banyak diuraikan secara jelas, Meskipun telah lama menjadi obyek studi antropologi. 

Konservasi tradisional pada dasarnya merupakan suatu sistem pengetahuan yang diperoleh dari interaksi manusia dengan lingkungan serta seluruh aspek kebudayaan. Sistem ini merupakan rangkaian pengalaman manusia, termaksud bahasa, sejarah, seni, politik, ekonomi, administrasi, psikologi serta aspek-aspek teknis lainnya seperti perikanan, pertanian, kesehatan, pengelolaan sumberdaya alam dan sebagainya. Sistem ini menjadi basis untuk pengambilan keputusan dan menjadi substansi pendidikan pada masyarakat tradisional. 

Sistem ini sama sekali tidak serius, seperti anggapan banyak orang. Sistem ini berkembang terus menenrus akibat interaksi dengan sistem-sistem pengetahuan dari luar, dan kemudian membentuk sebuah keseimbangan baru yang diharapkan mampu menjawab berbagai permasalahan hidup masyarakat dan lingkungan sekitarnya, termaksud teknologi dari luar. 

Dengan demikian konservasi tradisional meliputi semua upaya pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam oleh masyarakat tradisional baik secara langsung ataupun tidak langsung, telah mempraktikkan kaidah-kaidah konservasi dalam pengelolaan sumberdaya alam guna kelestarian pemanfaatannya. Praktik-praktik tersebut umumnya merupakan warisan nenek moyang mereka, yang bersumber dari pengalaman hidup yang selaras dengan alam. Praktik-praktik pengelolaan sumberdaya alam oleh masyarakat tradisonal yang memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian tersebut kemudian dikenal sebagai kearifan lokal setempat. 

Konservasi dan kearifan lokal selama ini selalu mendeskreditkan masyarakat tradisional, masyarakat seakan dikambing hitamkan sebagai penyebab kerusakan hutan. Contoh yang paling jelas adalah program pemukiman kemabali (resettlement) suku-suku terasing yang kini telah dihentikan. Kegagalan proyek ini di Kalimantan banyak disebabkan karena ketidakmampuan menilai fungsi social-ekonomi dari rumah betang (rumah panjang tradisional suku dayak) yang ternyata erat kaitannya dengan sistem pengelolaan ladang dan sistem pembagian kerja yang disebut beruduk atau besaup. Sistem ini setiap kelompok kerja antar keluaga dipehitungkan secara cermat. Kerja-kerja kelompok juga dilakukan untuk mengantisipasi resiko dari kegagalan panen. Apabila ada disatu keluarga dalam satu rumah panjang tradisional mengalami kegagalan panen maka keluarga lain siap membantu.


| Konservasi Alam, 2011 |

26/02/12

Papa dan Pernikahan

Cinta.... Apa Kabarmu? Sekedar menyelipkan pesan itu kepada otak dan segala bentuk diriku. Kali ini Aku mencoba bebas dan lepas tanpa harus memperhatikan kaidah-kaidah kepenulisan "hutan" dan tetekbengeknya; aku ingin bebas menulis dan bercerita tentang pengalaman beberapa bulan terkahir didunia nyata dan mempublikasikan (walau risih) didunia maya. walau  komitmen awalku tidak akan bercerita banyak tentang diriku dalam sosial network semacam blog dan sebagainya. 

Awal Tahun 2012 kami sekeluarga dikejutkan oleh "lemparan Tuhan" kepada hambanya dengan meninggalnya almarhum papa tepat di tanggal 11 bulan Januari 2012 tepat pukul 05.07 Wita. Sungguh dan sungguh menyedihkan untuk bocah sepertiku. Beban tanggungjawab akan semakin melimpah dipundakku sebagai anak putra tunggal pertama dikeluargaku. Semua menjadi beban dan titipan papa kepadaku. akh.... entah  aturan mana norma itu berlaku.

Jujur sebenarnya aku tak ingin lagi hanyut dan bersedih atau sekedar mengingatkan kembali kejadian pagi itu, tapi apalah artinya sebuah cerita penting dalam hidup jika tak dikekalkan melalui tulisan. Cuma itu cara yang bisa ku tempuh, walau entah itu benar atau salah yang bukan urusanku, biarkan aku berekspresi, biarkan aku menulis dan mengukir nama papa di page ini agar semua orang tau walaupun tanpa dituliskan seperti ini cerita tentang akhir hidup papa akan selalu bersemayam di otak ini sampai kapanpun itu. Iya… bakal selamanya ada di ingatanku. Tentang papa… - Almarhum Andi Burhan Andi Azis- 

Seolah olah kejadian itu sangat cepat tanpa aku sadari, tepat setelah Magrib malam Rabu (10-01-12) papa mengeluh kesakitan pada bagian kepala. Sangat sakit katanya, dengan langkah secepat kilat mama menghampiri papa yang terbaring di ranjang kamarnya untuk sekedar memijit kepala papa yang sakit itu, di susul adik-adik aku –tiwi dan nina- mereka secara bergantian merawat papa dan Alhamdulillah aku ketika kejadian itu masih berada dikampung halaman ini setelah melayat seorang paman yang meninggal 10 hari sebelumnya

Sungguh menyesal tak bisa memberikan apa-apa kepadanya walau saat itu terdapat apa-apa didompetku. Pikirku pernikahan.... hanya itu. :(

*ku tak mampu menuliskan semua penyesalanku... hingga ku tak mampu menulis lagi*

03/02/12

Tips Memasuki Hutan

Berekspresi dalam hutan

Berkegiatan alam bebas, utamanya para penyuka pendakian gunung ataupun hiking, pasti akan mudah sekali memasuki kawasan hutan, karena itu adalah bagian dari alam bebas yang harus di temui. Banyak dari para petualang yang tersesat ataupun mengalami hal- hal yang tak diinginkan saat telah berada di dalam hutan, seperti tersesat ataupun terkena aneka penyakit yang disebabkan oleh "penunggu dan penjaga" hutan. Berikut ini tips sebelum memasuki hutan, semoga bermanfaat. 

Hutan, baik geografis atau tipologis, memiliki keadaan dan tantangan lingkungan berbeda. Keadaan alam liarnya menjadi daya tarik para penikmat alam. Bagaimanapun alasannya, kehidupan di alam bebas memiliki berbagai kemungkinan dan keadaan tidak menentu. Mulai dari kondisi tanah, cuaca, hewan, tumbuhan, air terbatas, terutama kemampuan adaptasi manusia. Pengetahuan keadaan tak menentu ketika berada di alam bebas, disebut jungle survival , sangat dibutuhkan para petualang walau sekadar menyalurkan hobi. Kemampuan diri sangat menunjang keselamatan, sekaligus agar wisata alam liar kita berjalan baik. 


1. Siapkan perbekalan sesuai kebutuhan. Rencanakan kegiatan dan ikuti prosedur yang berlaku. Tetap berkelompok, jangan mengasingkan diri. 

2. Siapkan sikap dan mental. Jangan mudah panik, disiplin, berpikir jernih, dan optimis agar selalu waspada dan membuat keputusan dengan tenang. Siapkan keyakinan dan kepercayaan diri. Miliki kemampuan

05/01/12

Monyet Karimunjawa (Macaca fascicularis karimoenjdawae) di Taman Nasional Karimunjawa (TNKj)

Pagi itu, jarum jam sudah menunjuk angka enam. Sedikit bergegas, kami mulai berkemas: kamera, baterai cadangan, binokuler dan sebotol air sudah memenuhi ransel. Berjalan kaki selama hampir 45 menit, menyusuri pantai timur Pulau Karimunjawa, sampailah kami di sebuah teluk. Deretan hutan mangrove menjadi penanda perjalanan kami akan berakhir. Hembusan angin musim timur mengiringi langkah kami ke Dusun Legon Lele. 

Dari jauh nampak segerombolan monyet turun dari pohon kelapa, beberapa masih bersembunyi, seperti barisan tentara mengintai lawan. “Krra, krra, krra, krra!” Suara dari Macaca itu untuk mendeteksi keberadaan kelompoknya. Kehadiran kami bukan ancaman bagi mereka. Sambutan yang menggembirakan, bisik kami dalam hati. Di hadapan kami, Macaca fascicularis karimondjawae, berjarak hanya 300 meter dari tempat kami berdiri. Perlahan, kami menyiapkan kursi lipat hitam, binokuler dan tripod menjadi alat bantu mengamati satu-satunya primate penghuni pulau ini. 

Satwa yang sedang menyantap buah kelapa itu satu dari empat subspesies yang hidup di pulau-pulau kecil di Indonesia. Tiga lainnya: Macaca fascicularis fuscus hidup di Pulau Simeulue, Sumatera; Macaca fascicularis lasiae di Pulau Lasia, Sumatera; dan Macaca fascicularis tua di Pulau Maratua, Kalimantan. Macaca fascicularis, monyet! asli! Asia Tenggara, tersebar di berbagai tempat di Asia: Semenanjung Myanmar, Thailand, Malaysia, Indocina bagian selatan, Filipina, Sumatera, Jawa dan Kalimantan. 

 Monyet ini termasuk hewan liar yang mampu mengikuti perkembangan peradaban manusia. Macaca secara umum masih aman, bukan termasuk satwa yang dilindungi. Namun, lantaran perburuan yang terus terjadi, pemanfaatan Macaca fascicularis diatur dalam keputusan Menteri Kehutanan No. 26/1994. Monyet jantan memiliki panjang tubuh antara 385-648 mm dengan berat 3,5 – 8 kg, sedangkan betina 400-655 mm dengan berat 3 kg. Warna tubuh bervariasi: mulai dari abu-abu sampai kecoklatan, dengan bagian ventral berwarna putih. Hidungnya datar dengan ujung hidung menyempit. 

Anak Macaca yang baru lahir berambut kehitaman. Ekor yang melebihi panjang tubuh bermanfaat bagi monyet ekor panjang untuk menjaga keseimbangan saat beraktivitas di cabang kecil. Ciri khas monyet ras karimondjawae terdapat pada bagian atas kepala yang nampak seperti jambul. Pulau Karimunjawa, dengan ketinggian 506 meter di atas permukaan laut, menjadi habitat yang sesuai bagi primata ini. Hutan sekunder dengan tanaman Uyah-uyahan (Chionanthus rami!orus), Jambon lapis (Sizygium pycnatum), Jambon pletik (Sizygium syzygioedes) menjadi sumber pakan bagi monyet pemakan segala (omnivora) ini. Komposisi pakan monyet: 60 persen buah-buahan, dan selebihnya berupa bunga, daun muda, biji, umbi.

Monyet ekor panjang terkadang turun sampai ke formasi mangrove yang berbatasan langsung dengan hutan hujan tropis di Taman Nasional Karimunjawa. Selain di Legon Lele, penduduk sekitar kawasan sering menjumpai si monyet di Kemloko, Legon Boyo, Cikmas, dan Nyamplungan. Sebaran satwa yang masih berkerabat dengan beruk mentawai dan monyet hitam sulawesi ini dapat juga dijumpai pada formasi mangrove di Legon Jelamun, Pulau Kemujan. Monyet yang hidup di daerah bakau terkadang memakan kepiting atau jenis moluska lain. Tak mengherankan, beberapa peneliti menyebutnya dengan macaca pemakan kepiting—crabs eating macaque. Primata ini hidup berkelompok dengan jumlah individu berbeda di setiap kelompok. Pada hutan bakau umumnya berjumlah 10-20, sedangkan pada hutan primer bisa mencapai 20 – 30 ekor. Di Karimunjawa lebih sering dijumpai kelompok kecil, 10 – 20 ekor. Besar kecilnya kelompok tergantung pada ada tidaknya sumber pakan yang tersedia di alam. Penggabungan kelompok dapat terjadi bila jumlah pakan yang tersedia lebih dari cukup. Perkiraan populasi monyet ekor panjang dalam kawasan dengan luas 1.285,5 hektare ini mencapai 267 ekor. Monyet ekor panjang dapat bertahan hidup selama 37 tahun dengan masa hamil antara 160-170 hari. 

23/12/11

Monyet Togean (Macaca Togeanus) : Endemik di Kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean yang terancam punah



Indonesia termasuk salah satu negara “Mega Biodeversity” karena memiliki jumlah species yang sangat tinggi di Dunia. Bahkan Indonesia telah mengeluarkan sebuah dokumen Indonesia Biodiversity and Action Plan (IBSAP) yang disusun oleh proses kolaboratif yang cukup lama karena diperlukan pemahaman yang menyeluruh tentang keanekaragaman yang dimiliki. Salah satu keanekaragaman hayati yang dimiliki oleh Indonesia adalah Monyet Togean (Macaca Togeanus) yang hanya terdapat di Pulau Malenge Kecamatan Walea Kepulauan Kabupaten Tojo Una-una Provinsi Sulawesi Tengah yang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 418/Menhut-II/2004 merupakan kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean.

Macaca togeanus atau dalam bahasa lokalnya monyet togean atau monyet fonti merupakan sub spesies dari monyet bonti yang di penyebarannya hanya ditemui di Pulau Malenge secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Walea Kepulauan Kabupaten Tojo Una-una dengan luas wilayah 12,21 KM2 yang merupakan satu gugusan pulau yang terletak disebelah utara Kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean. 

Morfologis Macaca Togeanus
Ciri morfologis monyet togean yaitu bagian kaki dan tangannya berwarna putih, kepala berjambul, pada pipi muka ditumbuhi rambut, warna kulit hitam, rambut yang tumbuh disisi muka berwarna kecokelatan, rambut dibawah leher berwarna abu-abu terang hingga keputihan dengan panjang tubuh antara 502 – 584 mm, panjang ekor 40 – 50 mm serta berat tubuh jantan dan betina hampir sama 10 – 12 Kg. 

Monyet Togean dapat dikenali dari suaranya pada saat menjelajah, individu jantan seringkali mengeluarkan suara lemah dan bergetar (pi…pi…pi…) dan terulang-ulang, bila merasa terancam suara yang dikeluarkan akan lebih keras. 

Hutan yang merupakan habitat alami satwa ini telah mengalami degradasi. Selain karena alih fungsi hutan menjadi areal pertanian penduduk, penebangan liar yang terus marak juga diakibatkan oleh kebakaran besar yang terjadi pada tahun 1998 yang menghabiskan sekitar 50% hutan primer yang merupakan habitat alami monyet togean. Suksesi tegakan setelah 13 tahun hanya menyisakan belukar. Pohon yang merupakan pakan monyet togean seperti Ficus, Eugenia, Pangium edule, Manilkara kauki, Mangifera foetida banyak yang musnah. 

Perubahan habitat yang terjadi juga mempengaruhi pola konsumsi monyet togean dari yang semula hanya mengkonsumsi bunga, buah dan daun di hutan menjadi hama bagi petani kelapa di pulau Malenge karena satwa ini terkadang mengkonsumsi buah kelapa utamanya buah kelapa yang masih muda sehingga masyarakat memburu secara liar. Perburuan dilakukan dengan mengunakan jerat dan racun. Ketika masyarakat memburunya menggunakan racun, tidak lagi efektif karena satwa ini telah resiten dengan racun dalam hubungannya dengan kebiasaan monyet togean sering mengkonsumsi air kelapa sehingga tubuhnya kebal terhadap racun. 

Perkebunan kelapa merupakan habitat ideal bagi monyet Togean, apalagi dengan struktur tajuk yang saling bersentuhan sangat memudahkan monyet Togean untuk melakukan aktivitas pencarian pakannya, dengan habitat alami hutan primer dan sekunder di pulau Malenge yang telah rusak maka tak ada pilihan lain bagi satwa untuk mempertahankan hidup kecuali masuk ke perkebunan milik penduduk. 

Kini monyet togean (macaca togeanus) yang endemik di dunia tersebut dapat dihitung jari keberadaan dihabitat aslinya pulau Malengge, program-program konservasi yang telah dilakukan oleh pihak Taman Nasional Kepulauan Togean misalnya pengawasan dan perlindungan populasi satwa, inventarisasi pakan monyet togean, dan sosialisasi kemasyarakat disekitar habitat aslinya tersebut telah dilakukan. Lagi lagi hal ini tidak akan berpengaruh secara signifikan ketika kesadaran masyarakat itu sendiri yang harus ditingkatkan.




*Tulisan ini telah terpublikasikan*

15/12/11

Barbagi cerita "babom" ikan

Pagi itu sesuai jadwal kapal kami berangkat menggunakan kapal ferry dari Ampana Ibukota Kabupaten Tojo Una-Una Kantor Balai Taman Nasional Kepulauan Togean menuju Wakai untuk melaksanakan Kegiatan Patroli Perairan Kawasan Konservasi sesuai dengan Surat Perintah Tugas (SPT). Dalam tulisan ini saya tidak menjelaskan secara detail tentang pelaksanaan kegiatan, tetapi diskusi dan pengamatan saya terhadap tindakan beberapa orang yang melaksanakan aktivitas menangkap ikan dengan cara menggunakan bom hingga merusak terumbu karang dan ekosistem lainnya dibawah laut. 

Sepanjang jalan dari Pelabuhan Ferry Uebone Menuju Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Wakai tak henti-hentinya mengucapkan kebesaran “sang pelukis” alam ini. Sungguh sangat fantastik dan luar biasa. Panorama indah ditengah lautan terdapat ikan lumba-lumba yang berlomba-lomba menghampiri kapal kami, seakan mereka sebagai pengawal saat itu. Melalui pengamatan saya setiap pelaksanaan kegiatan, ketika menyeberangi Teluk Tomini diperairan rawan gelombang tinggi selalu saja si lumba-lumba itu mengawal setiap gerakan entah kapal kecil (katinting) ataupun kapal sebesar ferry. Seperti diperintahkan oleh atasanNya secara rutin. Selain fenomena lumba-lumba tersebut sekitar lamanya 3 jam berlayar kami disuguhkan oleh fenomena alam yaitu pulau-pulau kecil seperti batu yang berdiri kokoh sendiri ditengah lautan belum lagi keindahan mangrove dan birunya laut Teluk Tomini ketika menghampiri pulau Batudaka.

Hiruk Pikuk Pelabuhan Ferry Wakai
Pulau Batudaka merupakan pulau terbesar di Kepulauan Togean beribukota di Wakai sebagai pusat kegiatan masyarakat masuk dalam Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I. Sesampai di Wakai dalam jarak tempuh 4 jam sampailah kami di Pelabuhan Ferry Wakai. Berselang sejam kemudian kapal tersebut meninggalkan Wakai menuju Pelabuhan Gorontalo. Riuh pikuk suasana bongkar muat penumpang dan barang menjadi aktivitas rutin dipelabuhan tersebut setiap kali kapal-kapal berlabuh menambah kesan mendalam kepada kami tentang masyarakat kepulauan. Selanjutnya tim kami bergerak menuju Kantor SPTN Wilayah I yang hanya beberapa meter dari pelabuhan ferry untuk melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah maupun kepolisian setempat. Karena sudah menghampiri malam dan kondisi angin barat dilautan yang selalu menjadi ancaman bagi pelaut, tim memutuskan untuk menginap semalaman dikantor SPTN Wilayah I. Kantor itu ternyata berada diketinggian dari perumahan penduduk sekitar sehingga dengan leluasa kami menikmati matahari tenggelam (sunset) dan aktivitas masyarakat. Ada yang baru saja datang melaut (bahasa lokal : mangael) ditandai adanya dayung dan mesin katinting dipikul dipundaknya serta beberapa orang yang hendak ke mesjid untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah serta anak-anak yang berlarian kedalam rumah masing-masing setelah bermain petak umpat. Sungguh pencerminan kehidupan masyarakat yang jauh dari hiruk pikuk deru mesin seperti kota besar.

KEESOKAN HARINYA – Menggunakan perahu mesin tempel merek yamaha model 40 pk milik Balai Taman Nasional Kepulauan Togean yang dioperasikan di SPTN I Wakai kami melintasi pinggiran pulau Togean menuju Desa Kabalutan yang berada di Wilayah Administrasi Kecamatan Walea Kepulauan SPTN Wilayah III Popolii. Desa Kabalutan ini unik. Penduduk di gugusan Kepulauan Togean mengenalnya dengan nama pulau janda. Dijuluki pulau janda, disebabkan sebagian besar masyarakatnya berstatus janda. Menurut Sofyan Kepala Desa Kabalutan, Hingga Oktober 2011 tercatat sebanyak 422 orang dari 733 Kepala Keluarga yang bermukim didesa itu adalah Janda. Janda-janda tersebut ditinggalkan oleh suaminya dengan alasan melaut atau berdagang ke tempat lainnya seperti Ampana, Luwuk, Gorontalo, atau Pulau Kalimantan. Menurut tradisi setempat seorang perempuan tidak bisa meninggalkan pulau itu dalam keadaan bagaimanapun. Ada yang menarik ketika kami diskusikan dengan beberapa tokoh masyarakat setempat. Dalam hukum desa, ketika sepasang berlainan jenis diatas jam 10 malam atau ketika lampu desa dimatikan masih duduk berduaan di desa itu akan ditangkap oleh hansip desa untuk dinikahkan. Untuk menikah di desa ini lumayan cepat dan praktis tanpa harus menggeluarkan dana ekstra seperti umumnya budaya nikahan yang ada di Sulawesi. Prosesi dan acara biaya nikah cukup menggeluarkan nominal puluhan ribu rupiah didepan penghulu hingga seseorang resmi berstatus suami-istri atau dengan sangsi lain jika tak mempunyai nominal uang, yaitu menyelam mengambil batu karang di dasar laut untuk dijadikan bahan baku sarana prasarana umum di desa. Terbesit dalam pikiran saya saat itu bukannya aktivitas tersebut tidak mengindahkan aspek konservasi dengan cara mengambil terumbu karang yang ada didasar laut? 

Di Desa Kabalutan tersebut tinggalah salah seorang “jenderal bom”. Adalah Usman Jumaih, pria berbadan kurus berkulit hitam dengan kumis tipis tersebut kelahiran Luwuk berusia 52 Tahun menuntutnya untuk mendapatkan gelar itu. Dan beruntunglah kami yang dapat bertukar informasi dengan sang jenderal bom yang insaf itu. “Semua orang tahu kalo kita (red : saya) adalah jenderal bom yang insaf” katanya lengkap dengan dialeg khasnya. “bahkan kita pernah maso (red : masuk) di majalah dan koran-koran” lanjut katanya sembari mengeluarkan majalah dan koran lokal yang memuat profil dirinya. Gelar “jenderal bom” secara berseloroh dilekatkan pada dirinya. Saya akui setiap melakukan kegiatan perlindungan dan pegamanan kawasan, ketika melakukan tindakan persuasif kemasyarakat dengan menggali data dan informasi umumnya masyarakat masyarakat di gugusan pulau-pulau Togean bahkan di Ampana menjulukinya sebagai jenderal bom besar dari Kabalutan. Kisahnya dua puluh lima tahunan yang lalu ketika awalnya datang di Desa Kabalutan, Usman sapaan akrabnya mulai menggunakan cara pintas untuk mendapatkan ikan melalui babom

Babom adalah istilah yang digunakan masyarakat Kepulauan Togean untuk menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak. Menurutnya babom itu bisa menghasilkan ikan sampai sepuluh kali lipat dari cara konfensional. Semula Usman hanyalah seorang nelayan biasa, sekitar tahun 1980an hasil tangkapannya bagus tetapi sekitar tahun 1990an merosot tajam kenangnya “terpaksa kita babom daripada lama-lama tinggal kita lempar bom saja itu ikan-ikan, tapi saya sekarang benar-benar sadar bahwa itu salah besar, kalau sekarang saja susah mendapatkan ikan, bagaimana anak cucu saya nanti? Mereka mungkin tidak lagi makan ikan klo rumahnya ikan kita bongkar!” tutur Usman siang yang terik itu menambah suasana pengap dirumah papan beratapkan seng karena dipenuhi Tim Patroli Perairan Konservasi saat itu. Dari situlah karena rutinitasnya menjadi pembom ikan dan menularkannya pada nelayan lain sehingga disebut jenderal bom. 

Sang jenderal bom itu berbagi kisah dengan kami tim patroli perairan tentang teknik babom. Ada dua jenis bom yaitu dengan bom yang langsung dilempar ke laut atau dengan menggunakan detonator (pemicu ledakan). Bom yang langsung dilempar ke laut biasanya mempunyai resiko yang besar karena ketika arus laut nelayan tidak dapat menghindari atau bahkan terkena dampak dari bom itu, sedangkan dengan menggunakan detonator dapat meminimalisir resiko yang ada. Bom tersebut di berbahan baku utama adalah pupuk tanaman cap matahari atau obor yang didapatkan secara terselubung melalui jalur Bunta, Palu atau Gorontalo. Bahan lainnya adalah korek api kayu dan botol kaca bekas kemasan minuman. Setiap nelayan babom bisa menghasilkan 20 botol bom sekali buat dengan biaya kurang lebih Rp. 250.000,- dalam satu kilo gram pupuk tanaman cap matahari atau obor dengan penghasilan sekali babom dapat mencapai kurang lebih Rp. 150.000,- dalam satu botolnya. 

Nelayan babom umumnya di laut jauh dari pemukiman dilakukan pada malam dini hari dengan konsidi mempunyai terumbu karang kedalaman kurang lebih 1 setengah meter sehingga efek ledakan bisa mematikan gerombolan ikan-ikan dan tidak diketahui oleh orang sekitar. Berdasarkan data dilapangan melalui deskripsi dan diskusi sang jenderal bom dan beberapa nelayan lainnya, kami menyimpulkan bahwa terumbu karang yang menjadi sasaran adalah dari jenis Acroporidae. Karang ini umumnya hidup diperairan dangkal, dilindungi, mempunyai bentuk seperti tanduk rusa dan kumpulannya terkadang berbentuk meja yang ideal bagi tempat hidup dan bersembunyi gerombolan ikan. Dengan adanya aktivitas babom ini dapat menyebabkan kerusakan fatal beberapa radius kilometer pada terumbu karang karena mempunyai daya ledak yang lumayan tinggi hingga dapat menganggu ekosistem dibawah laut seperti karang hancur, terburai dan mati serta dengan begitu ikan-ikan makin sulit ditemukan. 

Sebenarnya kalau diamati secara mendalam, tindakan babom ini menghasilkan ikan-ikan dengan kondisi daging yang lembek. Dipasar-pasar tradisional yang ada di Kepulauan Togean kami sulit mendapatkannya, hal ini diakibatkan karena masyarakat yang ada di kepulauan Togean mendukung untuk tidak membeli ikan hasil penangkapan dengan menggunakan bom. Hasil ini umumnya dijual ke luar misalnya Gorontalo, Ampana atau Palu. 

Bom yang digunakan terbilang sederhana, namun nelayan dan masyarakat di sekitaran pulau tidak mengetahui dampak yang bisa ditimbulkan oleh bom tersebut. Dampak jangka panjang yang akhirnya malah merugikan dirinya sendiri sebagai nelayan, anak cucunya atau mereka mungkin belum menyadari pentingnya sebuah keberlangsungan terumbu karang bagi ikan. Karena itulah, seharusnya setiap petugas gencar melakukan sweeping bagi siapapun yang membawa dan menggunakan bom ikan atau melakukan sosialisasi dan penyuluhan agar terumbu karang tetap terjaga dan lestari. 

Hari sudah menjelang malam, senja tenggelam diufuk barat Kepulaun Togean. Tampak jelas bahwa keindahan luar biasa disajikan “gratis” oleh sang pencipta, Tim Patroli Perairan pada saat itu bersiap melanjutkan perjalanan malam menerobos ombak yang berkejaran seakan waktu takan kembali, semilier angin laut menusuk tulang-tulang kami diiringi suara angin laut yang sepoi-sepoi untuk bergerak menuju Desa Popolii melaksanakan program kegiatan selanjutnya. Patroli Perairan Kawasan Konservasi Balai Taman Nasional Kepulauan Togean 2011. 

SELAMATKAN TERUMBU KARANG DEMI MASA DEPAN ANAK CUCU KITA…

Salam Lestari…!

*Tulisan ini telah terpublikasikan dan tersebar dibeberapa media*

28/11/11

Spesies Hewan yang Telah Punah


1. Burung Dodo Punah Sejak Abad-17 


Dodo (Raphus cucullatus) adalah burung terbang yang hidup di Pulau Mauritius. Terkait dengan merpati dan merpati, ini berdiri sekitar satu meter (tiga kaki), hidup pada buah dan bersarang di tanah. Dodo telah punah sejak abad ke-17 pertengahan-ke-akhir.

Sumber Gambar : Google
Hal ini biasanya digunakan sebagai pola dasar spesies punah karena kepunahan yang terjadi selama sejarah manusia tercatat, dan berkaitan secara langsung dengan aktivitas manusia. Frasa kata sifat "sebagai mati sebagai seorang dodo" berarti niscaya dan tidak diragukan lagi mati. Frase kata kerja "untuk pergi cara dodo" berarti untuk menjadi punah atau usang, untuk jatuh dari penggunaan umum atau praktek, atau menjadi sesuatu dari masa lalu. 

Tidak jelas darimana kata dodo berasal. Mungkin berhubungan dengan dodaars, bahasa Belanda untuk sejenis bebek. Ada hubungan antara keduanya karena kemiripan bulu di kakinya atau karena kedua binatang ini kaku. Bagaimanapun, orang Belanda juga diketahui menyebut unggas dari Mauritius ini dengan walghvogel (unggas yang membuat mual) karena rasanya. Nama terakhir ini digunakan pertama kali dalam jurnal dari laksamana Wybrand van Warwijck yang mengunjungi dan memberi nama Mauritius tahun 1598. Dodo atau Dodaerse kembali tercatat dalam jurnal kapten Willem van West-Zanen empat tahun kemudian, namun tidak jelas apakah dia yang pertama kali menggunakan nama tersebut, karena sebelum orang Belanda, orang Portugis sudah mengunjungi pulau itu tahun 1507, tetapi tidak menetap.


Menurut Kamus Encarta dan Kamus Etimologi Chambers, "dodo" berasal dari bahasa Portugis doudo (sekarang doido) berarti "bodoh" atau "gila". Namun, istilah Portugis untuk burung itu sekarang, dodĂ´, berasal dari bahasa Inggris. Kata doudo atau doido di bahasa Portugis sendiri kemungkinan berasal dari bahasa Inggris lama ("dolt"). Keraguan bahwa asal kata itu dari Portugis juga karena, dalam bahasa Portugis, nama yang dibentuk dari pengulangan dua syllables terdengar kekanak-kanakan.

Dodo adalah burung yang tidak takut pada manusia, dan ditambah ketidakmampuannya untuk terbang, membuatnya menjadi mangsa yang mudah ditangkap. Orang yang mendarat di Mauritius memakan burung ini. Namun, banyak jurnal melaporkan rasa dodo tidak enak dan dagingnya yang keras, sementara spesies lokal lainnya seperti Rail Merah enak rasanya. Umumnya dipercaya bahwa pelaut Melayu menghargai burung ini dan membunuhnya hanya untuk menggunakannya sebagai hiasan kepala dalam upacara keagamaan. Manusia pertama yang mendatangi Mauritius membawa binatang baru, seperti anjing, babi, kucing, tikus dan kera pemakan kepiting yang menghancurkan sarang dodo, sementara manusia menghancurkan hutan tempat dodo tinggal. Kini, dampak dari binatang-binatang itu — terutama babi dan kera — pada kepunahan dodo dianggap lebih berpengaruh dibanding pengaruh dari perburuan. Ekspedisi tahun 2005 menemukan banyak binatang yang mati akibat banjir. Kematian masal demikian semakin menyulitkan bagi spesies yang sudah terancam punah.

Walaupun banyak laporan tentang pembunuhan masal dodo untuk bekal makanan dalam kapal, penemuan arkeologis sampai sekarang kurang mendapatkan bukti dari adanya manusia yang memangsa burung ini. Tulang belulang dari setidaknya dua dodo ditemukan dalam gua di Baie du Cap yang digunakan sebagai tempat berlindung buronan budak dan narapidana dalam abad ke-17, tapi karena tempat itu terisolasi di ketinggian, daerah itu sukar dicapai oleh dodo.


2. Cave Lion Punah Sejak 2000 Tahun Lalu 

Sumber Gambar : Google
Singa gua, juga dikenal sebagai singa gua Eropa atau Eurasian, adalah subspesies punah singa diketahui dari fosil dan berbagai seni prasejarah. Subspesies ini adalah salah satu singa terbesar. Seorang laki-laki dewasa, yang ditemukan pada tahun 1985 dekat Siegsdorf (Jerman), memiliki tinggi bahu sekitar 1,2 m dan panjang 2,1 m tanpa ekor dengan beratnya mencapai 300 kg atau lebih, yang tentang ukuran sama sebagai seekor singa modern yang sangat besar. Laki-laki ini bahkan melebihi oleh spesimen lain dari subspesies. Oleh karena itu kucing ini mungkin sudah sekitar 5-10% lebih besar daripada singa modern. Ini rupanya punah sekitar 10.000 tahun lalu, selama glaciation Wurm, meskipun ada beberapa indikasi itu mungkin sudah ada baru-baru ini sebagai 2.000 tahun yang lalu, di Balkan.

Cave Lion adalah subspesies singa raksasa,  adalah salah satu predator paling berbahaya dan kuat selama Zaman Es terakhir di Eropa, dan ada bukti bahwa ia ditakuti, dan mungkin disembah oleh manusia prasejarah. Banyak lukisan gua dan beberapa patung telah ditemukan yang menggambarkan Singa Gua. 

Menariknya, ini menunjukkan bahwa singa ini nyaris tidak memliki bulu leher, seperti pada harimau modern. Hal ini membingungkan, beberapa lukisan gua juga menunjukkan Singa Gua memiliki garis-garis samar pada kaki dan ekor. Hal ini menyebabkan beberapa ilmuwan menyimpulkan bahwa mungkin Singa Gua sebenarnya lebih terkait dengan Harimau.





3. Rusa Irlandia Punah 7.700 Tahun Lalu




The Elk atau Rusa Raksasa, adalah rusa terbesar yang pernah hidup. Ia tinggal di Eurasia, dari Irlandia ke sebelah timur Lake Baikal, selama Late Pleistocene dan awal Holocene. Sisa dikenal terakhir spesies sudah adalah karbon jaman ke sekitar 5.700 BC, atau sekitar 7.700 tahun yang lalu. Rusa Raksasa terkenal untuk ukuran berat (sekitar 2,1 meter atau 7 kaki tinggi di bahu), dan khususnya untuk memiliki tanduk terbesar dari setiap cervid dikenal (maksimal meters/12 3,65 meter dari ujung ke ujung dan beratnya sampai 90 pon).

Diskusi penyebab kepunahan mereka masih terfokus pada tanduk (bukan pada ukuran tubuh mereka secara keseluruhan), yang mungkin lebih disebabkan dampaknya pada pengamat daripada milik sebenarnya. Beberapa berburu telah disarankan oleh manusia adalah faktor dalam runtuhnya Elk Irlandia seperti itu dengan banyak prasejarah megafauna, bahkan dengan asumsi bahwa ukuran tanduk besar membatasi pergerakan laki-laki melalui kawasan hutan atau bahwa hal itu oleh beberapa lain berarti "maladaptation ". Tetapi bukti overhunting kurang tegas, dan sebagai spesies kontinental, itu akan bersama-berevolusi dengan manusia di seluruh keberadaannya dan mungkin telah beradaptasi dengan kehadiran mereka. 






24/11/11

Sebulan ini....!

Sebulan ini.... Masih disini.... Dengan kondisi semangkuk penuh frustasi dan segelas kebosanan kadar tinggi yang membuat diri semakin depresi tanpa solusi... !!!

Akh Sudahlah.... Biarkan seperti ini, entah kapan sampai dan berterima kasih bukan hanya demonstrasi. Astagafirullahuladzim.....

28/08/11

Atas Nama "tuhan"

Kehidupan ini berjalan seiring waktu dan tidak mengenal kompromi bagi siapa saja yang terlambat untuk memanfaatkannya mengisi warna warni kehidupan. Siapa yang terlambat maka ia akan tergilas dan siapa yang cepat maka ia akan memerankan peran menjadi aktor dalam sandiwara kehidupan. Sebagian orang memilih menjadi peran utama, sebagian lagi menjadi peran pembantu dan mungkin sebagian lainnya hanya menjadi juru rias, cleaning service, atau bahkan hanya jadi penonton yang menikmati hidupnya diluar panggung sandiwara yang kita kadang sebut ”Kehidupan”. 
Apapun peran yang kita mainkan dalam kehidupan ini yang pasti punya tujuan, entah untuk nilai komersialisasi, nilai status sosial atau bahkan mengatasnamakan ”Tuhan” sekalipun, yang penting kita punya peran. Semakin lama sandiwara ini kita mainkan maka semakin banyak hal yang perlahan tapi pasti mulai kita pahami dan pemahaman itulah yang telah membuka pintu hati kita untuk mengenal sang ”Sutradara” yang kita sebut ”Tuhan”. 
Selama berhari-hari, Bulan bahkan bertahun-tahun kita menjadi aktor dari Skenario cerita kehidupan yang kita sering bimbang dan bingung apa yang ada di balik cerita yang kita perankan. Boleh jadi kita isi cerita kehidupan ini dengan menjadi preman, pelacur, penjudi, peminum tapi tidak menutup kemungkinan garis takdir mengantarkan hidayah sehingga status sosial kita di tengah-tengah masyarakat menjadi seorang guru, dosen atau bahkan lebih mulia ”Seorang Ustazd”. 
Kita mulai tersentak dan tersadar ketika cerita kehidupan ini menguak misteri yang jauh dari perencanaan dan logika kemanusiaan kita. Kita tidak pernah menyangka bahwa seorang pelacur yang kita ”nistakan” kemudian berbalik menjadi muslimah seutuhnya. Atau yang lebih ironis lagi ternyata kita temukan seorang tokoh agama yang rela menjual aqidahnya untuk meningkatkan status ekonominya (Penulis tidak tega menggunakan istilah ”korupsi” kalaupun itu kenyataannya).
Ulah ”liar” manusia, berbuat sesuka hatinya, saling zalim menzalimi, zina menzinahi dan seakan-akan tanpa kontrol terkadang telah menggoda alam berpikir kita untuk kemudian bertanya kemana perginya ”Sang Sutradara” ?, apakah setelah ia ciptakan kehidupan kemudian ia menghilang dan membiarkan manusia menggoreskan takdirnya sendiri ? Atau mungkin ”Sang Sutradara” memilih dan memilah mana aktor yang tepat untuk satu peran tertentu dalam Skenario-Nya ?
Berbagai spekulasi jawaban dari rentetan pertanyaan tersebut. Satu diantaranya ketika Friendrich Wilhelm Nietzche dalam diktumnya “Tuhan telah mati”. Pandangan Nietzche itu kemudian memperoleh dukungan dari para ilmuan ternama lain, seperti Sigmund Freud, Karl Marx dan sederetan nama lain yang pada dasarnya berpendapat bahwa ajaran agama tak lebih sebagai sebuah ilusi dan hiburan sesaat untuk lari dari derita hidup dan sama sekali bukan penyelesaian problem hidup itu sendiri.
Tentu saja dalam kehidupan ini yang hidup bukan hanya Nietche. Bagi Albert Einstein, tidak terbayangkan olehnya ada para ilmuan yang tidak punya keimanan mendalam. Makin jauh kita masuk pada rahasia alam, makin besar kekaguman dan penghormatan kita pada Tuhan. Ketika Einstein ditanya apakah Ia percaya kepada Tuhannya Spinoza, filosof Yahudi dari Belanda, Ia berkata :

Aku tak bisa menjawabnya dengan sederhana; ya atau tidak. Aku bukan ateis dan aku tidak juga dapat menyebut diriku panteis. Kita ini mirip seorang anak yang masuk kesebuah perpustakaan besar, penuh dengan buku dalam berbagai bahasa. Anak itu tahu bahwa pasti ada orang yang telah menulis buku-buku itu. Secara samar-samar, si anak menduga adanya keteraturan misterius dalam penyusunan buku-buku itu, tetapi Ia tak tahu bagaimana. Bagiku, itulah sikap yang sesungguhnya dari bahkan orang yang paling cerdas sekalipun terhadap Tuhan. Kita melihat alam semesta disusun dengan sangat menakjubkan dan mematuhi hukum-hukum tertentu. Tetapi, kita hanya memahami hukum-hukum itu secara samar-samar saja. Pikiran kita yang terbatas tak dapat menangkap kekuatan misterius yang menggerakkan semesta. Aku terpesona dengan panteisme spinoza, tetapi aku jauh lebih mengagumi lagi sumbangannya bagi pemikiran modern karena dialah filosof pertama yang memperlakukan jiwa dan badan sebagai satu kesatuan, bukan dua hal yang berbeda.
Ketakjubannya pada penemuan sains membawa Einstin kepada Tuhan. Jika pandangan agamanya mempengaruhi pemikiran ilmiahnya, pada gilirannya pemikiran ilmiahnya mewarnai pandangan agamanya.  Dalam pandangan Einstin, salah satu intekasi antara agama dan ilmu pengetahuan adalah agama menyumbangkan ajarannya pada ilmu pengetahuan dan ilmu pengetahuan menghadiahkan penemuannya pada agama.
Siapaun orangnya, entah Nietche atau Einstein, atau siapapun ia, semuanya berbicara atas nama ”Tuhan”. Satu melihat dari sisi kelam-Nya dan sudut pandang lainnya melihat pencerahan menuju hakekat kemanusiaan yang ”ber-Tuhan”.
Pencarian dan penemuan hakekat ketuhanan sesungguhnya adalah proses pencerahan manusia menuju Tuhannya. Al-Hallaj, seorang sufi besar yang pernah dimiliki oleh dunia Islam, akhirnya dihukum pancung oleh algojo Abul Haris atas perintah Khalifah Bani Abbasiyah karena telah dituduh kafir atas pendapatnya, “Ana Al-Haq” (aku adalah kebenaran) atau “Ana Al-lah” (Aku adalah Allah). Ucapan kesufiannya inilah yang menghadapkan Al-Hallaj ke tiang gantungan.
Kasus Al-Hallaj menggores kepedihan mendalam pada nurani sejarah. Kematiannya memercikkan sentimen publik tentang perebutan makna dan hak istimewa “atas nama Tuhan” untuk mematikan perbedaan pendapat dikalangan masyarakat.  Seolah menjadi penguasa, lantas dengan sendirinya memiliki hak istimewa dari Tuhan untuk menuntun, mengatur dan menentukan jalan hidup orang lain.
Ironisnya, ketika berbagai persoalan sosial keagamaan muncul bukan untuk menjadikan Tuhan sebagai “sebab” dan “tujuan” segala permohonan dan pengabdian melainkan Tuhan dipinjamkan nama-Nya, guna dimanfaatkan sebagai alat, sebagai instumen sosial politik untuk membenarkan berbagai tindakan yang justru melawan kehendak Tuhan itu sendiri.
          Belajar untuk mempelajari keragaman alam berpikir dari sudut pandang yang berbeda dan belajar untuk tidak selalu mengklaim kebenaran hanya dari satu sudut pandang telah membawa alam kesadaran berpikir kita bahwa hanya Tuhan yang berhak untuk mengatasnamakan kebenaran Mutlak dan manusia tidak punya hak mengatasnamakan Tuhan untuk saling menghakimi, saling mengkafirkan bahkan Tuhan tidak pernah memberikan legitimasi manusia mengatasnamakan Tuhan untuk mencabut ”hak nafas kehidupan” manusia lainnya.